Wednesday, February 08, 2012

Senandung Hati

Aku tahu ada rasa itu di hatimu,
engkaupun tahu rasa itu masih ada. 
Walau tidak lugas dan tegas.
Kau sembunyikan rapat dan dalam, 
tetapi terkadang muncul dalam alunan rindu yang kau senandungkan dalam kidungmu.
hmm.. mesranya hatimu..

Engkau mungkin tidak bisa mengerti kenapa rasa itu muncul,
sering ada terbersit tanya tentang keanehan itu,
engkaupun menduga-duga, apakah gerangan ini.

Saranku padamu,
terima saja,
rasakan dan jalani hidupmu
yang penuh rasa dan warna...

4 someone yg sedang fall in love


Monday, January 30, 2012

Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?


Si A itu galak.
Si B itu nyebelin lho.

Demikian 2 kalimat yang saya dengar beberapa waktu belakangan di sebuah kantor. Beruntung, alih-alih mode gosip, yang muncul dalam kepala saya adalah alarm Meta Model. Ya, 2 kalimat tersebut jelas-jelas mengandung pelanggaran Meta Model, yang tidak saja punya efek hipnotik pada pendengarnya, melainkan juga mengandung sugesti (content) yang berbahaya.


Wah, yang bener? Kalimat sederhana itu?

Betul.

Kok bisa?

Mari kita bahas satu per satu. Pertama, dua kalimat tersebut jelas mengandung lost performative. Keduanya sama-sama tidak diberi subyek pengucap, sehingga seolah-olah ia adalah pendapat banyak orang, bahkan semua orang. Padahal, apa benar demikian? Menurut siapa Si A dan Si B galak dan nyebelin? Apakah menurut sahabat mereka juga demikian? Bagaimana dengan suami/istri mereka? Atau orang-orang yang pernah mereka bantu?

Kedua, kata ‘galak’ dan ‘nyebelin’ adalah 2 kata yang tidak spesifik. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan galak? Apakah ia teriak-teriak? Atau marah-marah? Atau berkata ‘ketus’? Apa pula yang dimaksud dengan ‘nyebelin’? Apakah ia seorang yang usil? Tidak kooperatif dalam bekerja sama? Tidak peduli lingkungan?

Ketiga, kedua kalimat tersebut juga mengandung generalisasi dan delesi. Bagaimana tidak? Mungkinkah ada orang yang selalu galak setiap saat, setiap waktu, setiap tempat, kepada setiap orang? Anda tentu sepakat untuk menjawab tidak, kan? Ya, sebab kalaupun ada orang yang demikian, pastilah ia sudah lama meninggalkan dunia ini.

Loh, kok?

Ya iya lah. Kondisi marah adalah kondisi emosi yang sangat intens. Seluruh tubuh berada dalam titik yang ekstrim, sehingga tidak mungkin seseorang mampu bertahan dalam kondisi tersebut setiap saat kalau tidak mengalami stroke.

Keempat, keduanya juga menimbulkan efek nominalisasi, dengan menempelkan label ‘galak’ dan ‘nyebelin’ pada Si A dan Si B. Dengan demikian, seolah-olah yang namanya Si A dan Si B itu adalah benda yang statis, yang hanya punya satu macam sifat saja. Apakah mungkin ada orang yang demikian di dunia ini, sama sekali tidak punya sifat lain?

Dan, apakah masih ada pola-pola pelanggaran lain? Tentu, silakan Anda temukan.

Nah, semua hal ini tidak terjawab jika pendengar hanya mendengarkan kalimat tersebut. Karenanya, sesuai struktur kerja pikiran yang selalu berusaha untuk mencari sebuah penyelesaian dari loop yang sudah terbuka, maka pendengar pastilah akan mencari makna sendiri.

Makna apakah itu?

Ya tergantung pendengarnya. Ini yang dinamakan proses TDS alias transderivational search. Atau, mudahnya, proses pencarian ke dalam pikiran masing-masing pendengar, makna yang paling cocok dengan informasi tersebut. Maka Anda tentu bisa membayangkan berapa banyak kemungkinan persepsi yang muncul dalam benak para pendengar, kan?

Ya, sebanyak pendengar itu sendiri!

Ada yang langsung mengkaitkan dengan orang tergalak yang pernah ia temui. Ada yang teringat pada seseorang yang ia benci. Bahkan bisa jadi ada yang langsung mengakses perasaan kesal yang pernah ia alami pada orang lain, dan jutaan kemungkinan lain!

Lalu apa efeknya?

Tanpa disadari, para pendengar sedang menempelkan kondisi pikiran-perasaan yang telah ia akses terhadap memorinya tentang Si A dan Si B. Dan bahkan ketika mereka sebenarnya belumlah mengenal siapa keduanya, mereka sudah memiliki persepsi subyektif bin negatif tentang keduanya.

Astaghfirullah! Bukankah dengan mengucapkan 2 kalimat tersebut sebenarnya si pengucap sedang menciptakan fitnah? Bagaimana tidak? Tanpa disadari, si pengucap sudah menstimulus para pendengar untuk menciptakan gambaran, suara, dan perasaan mengenai Si A dan Si B, sementara kesemuanya itu belum tentu benar! Dan apa menurut Anda yang akan terjadi dengan para pendengar itu ketika mereka satu saat nanti berjumpa dan berinteraksi dengan Si A dan Si B? Anda tentu bisa menebak sendiri.

Benarlah sebuah ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa banyak orang yang berjalan ke neraka dengan wajah mereka, semuanya tak lain adalah karena lisan. Benarlah pula bahwa fitnah itu jauh lebih kejam daripada pembunuhan.

Maka mengapa kita tidak memohon ampun terhadap entah berapa banyak kalimat serupa yang pernah tanpa sengaja kita ucapkan? Dan, mengapa pula kita tidak mendeklarasikan diri untuk, mulai sekarang, senantiasa menjaga setiap kata yang terlontar dari mulut kita?
sumber: Ferry Iswara facebook posting

Friday, January 13, 2012

Satu Lagi Arti Cinta

Suatu hari Alexander Smith, seorang penyair Skotlandia menyatakan: love is but the discovery of ourself in others, and the delight in the recognition. 

Bagi pemuda seperti Joni, perkataan penyair yang bersama Sydney Dobell melahirkan karya populer Soneta Perang (1855) tersebut, menemukan makna dalam kehidupannya.
Sebagai pemuda eSTewe (setengah tua), Joni nyaris memiliki semua yang didamba perempuan. Wajah ganteng, kekayaan, dan hati yang tulus. 
Sayang, ada sedikit yang mengganggu penampilannya. Ia agak bongkok. 

Belakangan Joni gundah. Ia sedang jatuh cinta. Adelia, putri pengusaha Bandung yang ditemuinya tahun lalu menjerat hatinya.

“Memang Nak Joni baik hati. Namun terus terang putri saya sebenarnya takut pertama kali berkenalan dengan Anda.” 
Itu perkataan ayah sang gadis kepadanya.

Tanpa putus asa, minggu lalu Joni minta izin bertemu secara pribadi dengan sang pujaan hatinya itu. 

Syukur, Adelia menerima kehadiran Joni. Mereka bercakap-cakap tentang banyak hal, sampai akhirnya tiba pada topik yang penting soal hubungan kedua insan. Tentang mereka berdua.


“Apakah Lia percaya, jodoh ada di tangan Tuhan, bahkan sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan?” tanya Joni
“Oh, ya saya percaya itu,” jawab sang gadis.
“Tradisi keluarga kami pun begitu,” kata Joni lebih lanjut. 

Menurut Joni, umumnya begitu seorang bayi lahir di dalam keluarganya, para sesepuh berteriak sambil menengadah kelangit, “Seorang anak telah lahir!” Lalu disurga terdengar jawaban, nanti jodohmu adalah si Anu.
“Hal itu mereka lakukan ketika saya dilahirkan. Sayup-sayup terdengar suara dari surga, ‘jodohmu bernama Adelia. Sayang, ia terlahir bertubuh bengkok. “ mendengar itu seketika semua orang menangis. 
Saya pun menjerit, “Oh, Tuhan. Kasihan dia, kalau dewasa nanti ia akan menderita. Kumohon aku saja yang menanggung bongkoknya. Biarkan dia lahir dan tumbuh sebagai gadis cantik.”
Suasana pertemuan menjadi hening. Percaya atau tidak, ketulusan cinta Joni menguatkan pernyataan Alexander di atas. Kedua sejoli itu akhirnya menikah.


Intisari, September 2006 No. 518 Tahun XLIII

sumber: http://excel2102.wordpress.com

Tuesday, December 20, 2011

Kenangan Terindah Denganmu


Aku pikir tidak akan ada wanita yang dapat menggantikan dirimu di hatiku hingga saat ini... Tapi, aku salah... ternyata aku dapat mencarinya kembali.... walaupun tak seperti dirimu, tak sesempurna dirimu.... bintang ku...
Karena, aku begitu mencintaimu, bahkan amat sangat mencintai mu...
Hanya butuh satu menit, sekali bertemu dan sekali berbicara denganmu untuk menyukaimu. Untuk melupakan mu butuh waktu yang sangat lama....lama... dan lama....sekali.... atau bahkan mungkin seumur hidupku... (wah, ST12 banget... )
Aku kecewa kepada dirimu.. ternyata, ia lebih berani untuk menerima cintaku. Waktu dulu... aku yang yang berkali-kali menyatakan cintaku, namun dirimu selalu mengatakan ”nanti” dan nanti....?? Aku rasa... tidak mungkin... Dirimu sebenarnya tidak mencintaiku (mungkin mulai kusadari itu).
Kini kisah cinta diam-diam kita telah berakhir.... karena aku telah mencintai wanita lain dan dirimu yang jauh di sana mungkin telah mencintai pria lain.. Akan ku ukir nama kita berdua di hatiku dan akan terus ku kenang hingga akhir hayat ku.

Lamat-lamat kudengar lagu Samson – Kenangan Terindah:

Ooh...
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang tlah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah...

Disadur dari beberapa tulisan (maaf sy lupa); bila ada yg merasa keberatan mohon hubungi email saya.

Wednesday, December 14, 2011

Aku Ingin Berbisnis

Berbisnis! 
Ungkapan itu muncul dan terus memenuhi ruang kepalaku pada saat orang lain menceritakan aktifitas sehari-harinya diluar bekerja sebagai pekerja pabrik atau pegawai.
Teman sekerja ku, banyak yang sudah memulai berbisnis untuk memanfaatkan waktu setelah mereka bekerja atau pada saat libur bekerja. Pak Joko, teman sekerjaku yang kadang membuatku berdecak kagum, sudah memulai usaha percetakan sejak tujuh - delapan tahun yang lalu.
Bahkan saat ini dia sudah mengembangkan lagi usahanya untuk membuat usaha baru, pembuatan tempe! Dirumah, bersama istri dan keluarganya, beliau sudah punya usaha sendiri, jual beli furniture dan alat rumah tangga. Luar biasa!

Pak Hartono, atasan sekaligus rekan kerja yang banyak membantu saya, bercita-cita memiliki usaha besar. Sebelumnya beliau juga sudah pernah mencoba usaha dibidang kuliner.
Waktu itu booming kuliner, beliau bersama investor dari Jepang memulai usaha restoran di kawasan elit di Selatan Jakarta.
Namun karena miss-management usaha dengan asset tidak kurang dari tiga milyar itu menguap tanpa hasil.
Beliau masih optimis bisa memiliki usaha sendiri yang kuat dan tahan krisis.

Pak Sawin, teman kampus sekaligus 'atasan' saya, juga sama. Beliau sudah memiliki bisnis yang cukup mapan. Usaha pembuatan sepatu, dengan omset tidak kurang dari lima belas juta perbulan!
Waw!

Pak Agus Pitoyo, GM sekaligus atasan langsung saya bahkan lebih hebat lagi.
Beliau memiliki banyak usaha, mulai dari rental mobil, investasi emas hingga usaha catering.
Konon beliau sudah memiliki asset tidak kurang dari 3 Milyar!

Diluar itu, temen kuliah dulu, pegawai negeri.
Namanya bu Eti.
Dia pelaku usaha MLM.
Bersama suaminya, pak Haji Dedi melakukan usaha MLM dengan penuh semangat.
Setiap pulang kerja, ataupun hari libur, beliau sangat aktif dan semangat untuk mencari prospectus.
Kemarin beliau juga sempat main ke tempat saya tinggal di Vila Balarja.
Konon beliau sudah mendapatkan penghasilan tidak kurang dari satu juta perhari!
Luar biasa! 

Nah gimana nih dengan saya?

Saya sendiri kadang merasa hanya jadi pemain yang cari aman.
Kebetulan dengan uang yang ada saya, hanya jadi investor pada salah satu usaha teman. Dari investasi itu saya mendapatkan side income diluar gaji saya sebagai buruh pabrik. Yaa lumayanlah buat nambah-nambah belanja dapur di rumah, sama buat nabung, sedikit-sekidit. Sapa tau bisa buat naik haji! :D


bersambung.....
Memulai usaha dengan modal Nol
 

Saturday, December 10, 2011

Ketika Cinta Bersemi di Kantor



Si dia sering curi-curi pandang dari mejanya dan mengirimkan pesan-pesan singkat yang membuat Anda tersenyum. Anda pun menjadi penasaran dan menebak-nebak jangan-jangan dia menaruh perhatian.
Kisah cinta memang dapat terjadi dimana saja, apalagi di kantor, tempat berkumpulnya orang-orang yang mungkin sedang mencari jodohnya masing-masing.
Hampir 8 jam rata-rata seorang bekerja di kantor bahkan kadang lebih. Berdasarkan Center for WorkLife Policy yang dikutip detikHealth, Rabu (1/7/2009) dari Yourtango, seorang pekerja umumnya menghabiskan waktu bekerja di kantor lebih dari jam kerja yang seharusnya. Menurut survei tersebut, pekerja lajang lah yang lebih banyak demikian.
Janet Lever, PhD, profesor sosiologi dari Universitas California, Los Angeles yang telah mempelajari masalah seks selama 25 tahun mengatakan kantor merupakan tempat yang paling populer untuk menemukan pasangan hidup, setelah kampus.
Hal tersebut dibenarkan pula oleh antropolog, Helen Fisher yang memimpin penelitian-penelitian berbauseks. “Memang terdapat hubungan antara kehidupan modern sekarang di kantor dengan kisah percintaan atau nuansa romantis,” ujarnya.
Bekerja menjadi sumber semangat seseorang ketika ada yang sangat perhatian di tempat bekerja. Semangat pun akan terus terpompa dan senyum pun akan selalu mengembang.
Bagaimana tidak? Anda bertemu dengannya tiap hari, satu tim dengannya, mengerjakan tugas bersama, makan siang bersama dan bercanda bersama. Hampir seharian Anda menghabiskan waktu dengannya. Hubungan kerja yang diselipi kisah cinta pun akhirnya membuyarkan batasan-batasan kerja.
“Sangat menyenangkan ketika ada seseorang yang mengerti beratnya pekerjaan kita, tapi terkadang apa yang kita obrolkan justru lebih banyak soal pekerjaan,” ujar Kristine (31), yang bertemu pasangannya, seorang reporter sebuah surat kabar AS, di kantornya.
Bekerja lebih lama di kantor berarti juga berkurangnya waktu di rumah. Umumnya mereka yang mencari pasangan di kantor, mencari pula seseorang yang dapat menemaninya pulang bersama.
Berdasarkan Romance Survey tahun 2007, sebanyak 23% pekerja memiliki suami atau istri yang juga bekerja di tempat yang sama agar bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan pasangannya.
Mempunyai pasangan sekantor memang sah-sah saja, karena si dia dapat menambah semangat kerja Anda. Dengannya, Anda dapat berbagi informasi, memecahkan masalah dan mungkin dibuatkan kopi.
Tapi ingat, hubungan Anda jangan terlalu vulgar tidak perlu semesra dan sehangat pasangan di luar kantor pada umumnya. Ingat, Anda sedang berada di kantor dan bisa menjadi pusat perhatian bahkan gunjingan oleh rekan-rekan kantor lainnya jika tidak dapat membatasi diri. Kelebihan pasangan sekantor dibanding dengan yang tidak sekantor mungkin karena mereka dapat mengerti lebih baik emosi pasangannya dalam kebutuhan profesional kerja. Pasangan sekantor mengerti betul beratnya beban pekerjaan yang Anda hadapi dibanding pasangan atau suami-istri di rumah atau tempat lain yang mungkin kurang memberi perhatian terhadap masalah pekerjaan Anda.
Namun tidak selamanya orang yang selama ini dekat dengan Anda, harus menjadi pasangan Anda. Angela (32) menceritakan persahabatannya yang dalam dengan partner kerjanya, Brian di sebuah perusahaan periklanan.
“Kami menjadi dekat karena seringnya bertemu dan melihat satu sama lain selama 5 hari dalam seminggu. Hari-hari saya sepertinya kurang sempurna jika saya tidak membicarakan segala sesuatunya dengan Brian. Lucunya, kita justru tidak pernah bertemu satu sama lain di luar kantor, meskipun mungkin ia sedang berkencan dengan salah satu teman saya,” ujar Angela.
Namun Tina B. Tessina, PhD, seorang psikiater spesialis hubungan di California mengingatkan, memiliki pasangan sekantor dapat menjadi masalah ketika mereka mulai mengikat Anda sangat kuat dan menjadi overprotective sebelum menjalani ikatan pasangan yang resmi nantinya.
hmmmm..... jadi pertimbangkan dengan mateng segala sesuatunya... hehe... :D

Sumber : “http://cepplux.blogspot.com/2011/05/ketika-cinta-bersemi-di-kantor.html”