Monday, April 19, 2004

........


Lang nya gi
sibuk kerja so dia ga sempet bales shoutbox nya...Lang minta tolong ma aku wat
bales smua shoutboxnya coz da penuh gitu...skarang Lang da pindah bagian juga di
PRESS DIE jadi Lang tambah sibuk..Lang minta maap kalo ga isa postingan, tar
kalo ada waktu Lang pasti postingan...and shoutboxnya aku batasin 20 ajah coz
yang lalu ampe 40 aku yang kebingungan balesnya...Maap yah kalo balesannya agak
gak nyambung getoo


bY : ranny



Monday, April 12, 2004

MAAF....

Aku tak tahu apa yang ada dalam hatimu
Aku tak tahu apa yang melintas dalam fikiranmu
Aku tak tahu

Engkau-pun tak tahu isi hatiku
Engkau-pun tak mengerti nestapa bathinku

Kata itu,
hanya engkau yang mengerti
Tapi...
akupun punya persepsi

Kurasa
Dirimu
Diriku
Harus menghentikan langkah
menoleh sejenak perjalanan kita
Mungkin ini akan lebih baik
Bagi dirimu, bagi diriku
Maafkanlah......

5t3d by : 1lalang L14r

Friday, April 02, 2004

RINDUKU......
Episod II SENYUM DAN KERINDUAN ITU

Sore itu, masih menyusuri jalan setapak itu...
Kulangkahkan lagi kakiku.
Berpapasan aku dengan dua orang gadis remaja. Umur mereka ku taksir sekitar 15an. mungkin masih SMP atau SMU.
Yang satu memakai jean setengah tiang, dan balutan t-shirt warna hijau dengan garis-garis merah muda arah membujur. Wajahnya oval, putih dan berseri. Tingginya tidak kurang 165cm. Enak dipandang.
Yang satunya, lebih tinggi lagi. Tidak kurang 170cm. dengan memakai jean dan memakai baju kemeja putih ketat ala mode sekarang, terlihat sekali gadis remaja ini sangat menawan. Wajahnya biasa saja, namun bentuk tubuhnya, akan membuat orang berhenti sejenak menghentikan aktifitasnya bila berpapasan dengan gadis remaja ini....
Sambil tersenyum ditahan, mulutku tanpa sengaja berucap: "anak-anak sekarang, jangkung-jangkung dan cantik-cantik...."

Di teras sebuah rumah yang aku lewati, kulihat lima anak-anak sedang bermain kartu. Tiga laki-laki, dua perempuan. Anak kecil laki-laki yang satu hanya jadi penonton. Dua orang anak laki-laki itu, pada bagian pipi dan keningnya seperti di coret-coret dengan kapur, berwarna putih. Sedangkan dua anak yang perempuan pipinya masih bersih. Mungkin, dalam permainan mereka ada pengecualian buat anak perempuan...
Sambil tertawa-tawa mereka melihat aku. "Ini yang kalah pak!" Teriak anak laki-laki yang jadi penontonnya, memberitahukan padaku tentang dua temannya yang dicoret-coret mukanya itu. Aku hanya tersenyum-senyum sambil berlalu.
Dalam hati aku bergumam, "permainan anak!"
Sejenak anganku melayang...
sewaktu kecil, aku bersama anak-anak sebayaku, di kampungku, di pedalaman sumatera selatan sana, masih bisa bermain engrang -yang di sana di sebut ingkaw- masih bisa bermain sepanting, permainan kelincahan menangkap potongan kayu sebesar ibu jari yang dipotong seukuran kira-kira 25cm. Bagi, yang paling banyak menangkap, maka dialah yang jadi pemenangnya.
Kedua permainan ini memerlukan tanah lapang.
Sementara di sini, tempat untuk bermain engrang atau sepanting itu, sudah tidak ada lagi.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Dan merekapun bermain, apa adanya. Dengan permainan yang ada, yang bisa mereka pergunakan untuk bermain...

Di ujung pertigaan jalan setapak, kulihat sekumpulan remaja sedang duduk-duduk sambil bermain gitar. ada sekitar 7 orang remaja, dari wajah mereka, mereka sepertinya sudah selesai smu.
Aku berjalan, menuju arah mereka. Lagu yang mereka dendangkan, terkadang terdengar sumbang. Ada yang berteriak, seolah memakai suara dua, mengiringi penyanyi utama.
Remaja-remaja ini, sering kulihat nongkrong di pertigaan jalan setapak di kampungku ini.
Sepertinya, Lapangan Pekerjaan tidak dapat menyerap mereka. Mereka jadi saksi sulitnya mencari pekerjaan di zaman sekarang ini.
Kampungku yang dikelilingi bangunan megah dan perumahan mewah terpaksa menampung mereka yang tidak pernah diberi kesempatan oleh keadaan, untuk bekerja sesuai impian mereka waktu sekolah.
Para penguasa negeriku, sibuk memikirkan perut mereka sendiri. Sibuk mencari makan yang sebanyak-banyaknya untuk 'cacing-cacing' dalam perut mereka sendiri. Sibuk mencari obyekan sendiri, sibuk memasukkan anak mereka sendiri untuk jadi bagian 'Penguasa' tanpa memberi kesempatan pada yang lain sesuai porsi. Sementara kemiskinan, pengangguran sepertinya sudah tidak pernah difikirkan lagi....
AKU RINDU NEGERIKU YANG GEMAH RIPAH LOH JINAWI.
RINDU NEGERIKU YANG TOYYIBATUN, BALDATUN WAROBBUN GHAFUR.
Menjelang maghrib, aku pulang menuju tempat tinggalku, dengan SENYUM DAN KERINDUAN....

Po5t3d by : 1lalang L14r

Tuesday, March 30, 2004

"SENYUM" dan "KERINDUAN" ITU

Ingin sekali, sore itu aku jalan-jalan. Menyusuri jalanan setapak di kampungku. Kampungku, yang berada di bilangan Cikokol Kota Tangerang, -yang menurut temanku, tujuh belas tahun lalu- masih dapat disaksikan hijaunya persawahan, kicau riang sang burung pipit.
"Masih ada kenangan saat aku bersama teman-teman kecilku, mancing di tengah-tengah sawah."
"Masih jelas di kelopak mata, kami berlari-larian dari ujung pematang menyusuri persawahan saat petang menjelang...."
Begitu, Temanku bercerita tentang kampung kami, pada suatu hari. Bercerita tentang Kampung Sembung. Kampungnya dan kampungku (paling tidak sejak beberapa tahun terakhir, Kampung Sembung telah menjadi tempat tinggalku, sehingga aku merasa pantas menyebutnya kampungku).

Kampungku, Kampung Sembung sekarang hanya tinggal beberapa jengkal saja. Itupun sudah terpisah dan dipisahkan dengan kampung sekitarnya, sudah terpisah dengan Kampung Kebon Nanas, karena sudah dibangun perumahan mewah Mahkota Mas dan Pusat Perkulakan Alfa, sudah terpisah dengan Kampung Kelapa, karena sudah dibangun perumahan Bumi Mas Raya dan Modern Land. Sudah terpisah dengan kampung Betung, karena sudah dibangun Perumahan Bumi Mas dan Bona Sarana Indah. Sudah terpisah dengan kampung Cikokol Bawah, karena sudah dibangun Mahkota Trade Center dan mall d'Best.
Sudah terpisah dengan warga pinggiran Sungai Cisadane, karena sudah digusur oleh bangunan Pabrik Tekstil Argo Pantes yang terus melebarkan usahanya.
Sekarang kampungku tinggal sejengkal.....

SORE ITU...
Aku menyusuri kampungku. Kampungku yang terasa padat, karena rumah-rumah warga yang dibangun arahnya tidak beraturan. Rumah yang satu menghadap utara, yang satunya lagi menghadap timur atau selatan. Ada yang menghadap jalan, ada yang membelakangi jalan. Rumah yang satu mempunyai teras, yang lainnya berhimpitan langsung dengan jalan. Kampungku terasa padat, dan rapat.
Aku masih ingat, waktu akan membuat jalanan setapak ini, pak RT terpaksa 'meminta-minta, atau bahkan mengemis-ngemis agar warga merelakan sedikit tanahnya untuk dibuat jalan setapak, agar lalu lintas dapat dilakukan dengan lancar.
Aku juga masih ingat, bagaimana warga-warga di kampungku meneriakkan keberatannya, tanahnya diambil untuk jalan setapak. "Tanah kami tinggal sedikit, masak mau diambil lagi untuk jalanan? Memangnya, tanah kami mau diganti berapa?" begitu kata mereka, waktu itu.
Aku juga masih ingat, bagaimana akhirnya terpaksa pemuka masyarakat turun langsung mendatangi warga bersama pak RT, meminta kesadaran mereka.
dan.... pembuatan jalanan setapak ini akhirnya bisa dilaksanakan.....
Warga kampungku, walau keras hati, masih mempunyai kesadaran dan sifat sosial dan solidaritas yang tinggi.

Satu dua rumah kulewati, aku mengangguk atau tersenyum kepada warga yang aku kenal. Wajah mereka terasa akrab, namun aku tidak mengenal nama mereka, dan merekapun seperti itu... Kami hanya saling mengenal wajah saja.
Pekerjaan kami -yang sebagian besar buruh dan pekerja pabrik- membuat waktu kami sangat terbatas untuk saling berinteraksi dan saling mengenal satu sama lain. Aku, setiap hari berangkat pagi dan hampir setiap hari pulang malam, untuk melaksanakan pekerjaan rutin setiap hari di tempatku kerja sebagai buruh, sebagai karyawan. Malam hari sepulang kerja, badan sudah terasa penat dan lelah. Aku biasanya tertidur, sehabis mandi dan makan malam. Warga-warga di sekitar kamipun begitu juga adanya. Kadang, kami hanya tahu wajah dan tempat mereka, tanpa mengenal nama. Sehingga kalau ada yang datang dan bertanya nama si fulan, nama si dulah, kami sering tidak tahu.
Potret kota, sudah dapat kusaksikan di kampungku.

Di tanah yang kosong, kulihat enam orang anak bermain sepak bola. tanah itu kutaksir hanya seukuran rumah. 6x8m.
sambil tertawa-tawa, mereka menendang bola yang terbuat dari plastik itu. Mereka sudah tidak mempunyai tempat lagi untuk bermain, tempat bermain mereka telah tergantikan oleh bangunan-bangunan megah dan mall-mall. Tanah lapang yang diperlukan oleh mereka, telah dialih fungsikan menjadi pusat-pusat belanja dan perumahan-perumahan mewah, buat orang-orang berkantong tebal.
Mereka hanya dapat menjadi penonton, berdecak kagum melihat bangunan-bangunan yang kokoh mengelilingi kampungku dan kampung mereka.
Mereka hanya dapat bermimpi bermain sepakbola dilapangan hijau seperti di TV, mereka hanya dapat bermimpi...
Dan.... mimpi itu masih bisa membuat MEREKA TERTAWA SERTA TERSENYUM POLOS DAN LEPAS, menikmati Masa kecil mereka.
senyum itu, SENYUM YANG (kadangkala) MEMBUATKU CEMBURU, INGIN KEMBALI KE MASA KECILKU.....


Po5t3d by : 1lalang L14r

Monday, March 29, 2004

DIRIMU

Berkata aku pada sang bintang
Tentang diriku
Tentang dirimu
Tentang kita
ribuan kata
ribuan kisah
merekatkan jiwa

Tapi...
Tak sedikitpun rasa itu mendapat restu

Ada yang tidak ku mengerti
ada yang tidak ku fahami
perasaan itu
terlalu cepat hadir
diantara kita

dan...
Merekapun tidak akan pernah mengerti
Mengapa

Engkau berjalan dalam ketidakberdayaanmu
Menuruti hatimu yang gundah
dalam ketulusan cinta yang agung
yang engkau tambatkan padaku

Aku...
Akan coba mengerti
Akan coba terus untuk mengerti
Diriku, dirimu
Terdapat perbedaan
Yang Menurut Mereka tabu...

Biarlah
Sang bintang mengerti
bahwa cintamu, cintaku
begitu tulus
di atas perbedaan itu.

kisah ilalang bersama seorang dara, akhirnya ku publikasikan juga kisah itu, dia begitu lugu begitu polos. Saat kami sadari aku dan dia sangat berbeda, hanya cinta yang membuat kami bisa jalan bersama, di antara cemooh orang tua mereka, di antara lirikan sinis keluarga mereka kami bertahan, di antara kemelut hati kami yang selalu kami akui sering resah bila jalan bersama. Kenangan itu, indah kurasa. Ketulusan cintanya membuat kisah cinta itu lama bertahan, dan terus akan menjadi kenangan...

Po5t3d by : 1lalang L14r

Tuesday, March 23, 2004

Tak Bisa Pindah Ke Lain Hati

Bulan merah jambu
luruh di kotamu
kuayun sendiri langkah-langkah sepi
menikmati angin...
menabur daun-daun
mencari gambaranmu di waktu lalu

Sisi ruang batinku
hampa rindukan pagi
tercipta nelangsa..
menembus sukma
terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati

Begitu lelah sudah kuharus menepi
hidup t'lah ditambatkan
berlabuh dipantaimu

Sisi ruang batinku
hampa rindukan pagi
tercipta nelangsa
menembus sukma
terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah,pindah ke lain hati

sungguh ku akui...tak bisa ke lain hatii.
meingingatmu, mengenangmu, menggapai paras wajahmu
sendiri....

Nb : Moga lekas sembuh Yank..i miss u...
bY : Ny