Apa mimpi Anda ketika anda masih kecil?
Apa mimpi anda saat masih SMP, SMA, atau saat kuliah?
Atau bila pertanyaan lebih lanjut bila anda baru lulus kuliah, apa mimpi anda saat ini?
Sewaktu kecil, mimpi saya sangat sederhana. Saya ingin melanjutkan sekolah ke sekolah guru. Menurutku menjadi guru adalah pekerjaan yang menyenangkan. Bisa memberikan ilmu buat anak didik, berbagi pengalaman hidup dan tentu saja 'melihat' mereka menjadi pintar, akan membuat suatu kebahagiaan yang tidak ternilai.
Sewaktu SMP, mimpi itu berubah.
Aku ingin jadi dokter.
Dalam benakku dengan menjadi dokter, tentu membuatku berkesempatan banyak menolong orang lain yang memerlukan. Aku ingat betul, bagaimana orang tuaku yang sakit (waktu itu panas demam), tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu dengan harap-harap cemas. "andai saja, aku jadi dokter pasti aku bisa mengobati orang tuaku" begitu pikirku waktu itu.
Setelah SMA mengambil jurusan biologi (yang menurutku masih paralel dengan cita-citaku menjadi dokter), mimpiku berubah lagi.
Usia SMA, telah membuatku lebih realistis. Aku yang berasal dari keluarga sederhana, bahkan sangat sederhana. Tentu sangat sulit untu memiliki mimpi yang terlalu tinggi. Mimpiku harus disesuaikan dengan kondisi keluargaku.
Menjadi dokter bukanlah hal yang mudah. Karena disamping persyaratan 'kepintaran' terdapat syarat lain: keuangan yang cukup.
Akhirnya mimpiku 'hanya': aku ingin masuk ke bangku kuliah. Itu saja. ingin kuliah. Untuk sebagian orang ‘duduk di bangku kuliah’ mungkin hal biasa, suatu jalan yg memang harus dan pasti dilewati. Buatku, saat itu, kalimat ‘duduk di bangku kuliah’ merupakan sesuatu yang serius bahkan hampir seperti impian.
Aku yang hanya berasal dari keluarga sederhana, dengan empat orang adik-adikku, tidak muadh untuk kondisi seperti itu.
Namun, sekali lagi aku saat itu lebih realistis. Menjadi dokter, bukan 'hanya' mimpi yang sangat sulit kugapai. Tetapi tampaknya hanya merupakan angan-angan saja. Sehingga mimpiku, 'kuturunkan' hanya bisa kuliah saja. Yang pasti aku harus punya mimpi. Itu yang membuatku bisa semangat dan terus semangat.
Namanya juga mimpi, bisa tercapai bisa juga tidak..
Ternyata benar! Setelah lulus SMA mimpi itu laksana 'bunga ilalang liar yang terbang terbawa angin petang'. Pergi entah kemana.
Mimpi itu ternyata hanya angan-angan...
Bersambung.....
Tampilan terbaik menggunakan FireFox. Sajak, puisi, pemikiran, keriuhan, kegalauan, kesendirian, kesepian dan kegembiraan anak manusia. Bagi yang ingin mengirim kisah tentang kesepian atau kegembiraan anda atau yang ingin menjalin persahabatan dan atau ingin berbagi pengalaman pribadi - silahkan via ilalangliar@gmail.com - saya akan menyambut dengan welcome. Ilalang Liar
Wednesday, June 17, 2009
Tuesday, June 16, 2009
Obat Keresahan dan Kegelisahan Hati
Pernah merasa hati galau? gundah gulana? gelisah? atau hati resah?
Nih, kali ini Lang akan posting sebuah catatan dari seseorang, yang menurutku bisa dijadikan sebagi renungan.
Dalam kehidupan setiap orang, pasti mengalami pasang surut perasaan. Senang versus susah, nikmat versus sengsara. Yang dominan dalam hidup kebanyakan orang adalah rasa cemas, bahkan banyak orang diatanranya yang yang memilih jalan pintas “mabuk-mabukan, atau sekalian bunuh diri”. Semua itu akibat setres dan tidak mampu mengatasi kecemasan hidupnya. Kecemasan hidup seseorang disebabkan beberapa hal, mungkin karena gagal dalam usaha, tiadak lulus dalam ujian, diputus pacar, karena menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, atau mungkin karena malu pada keluarga, tetangga karena tidak mampu hidup layak, dan sebagainya. kali ini saya ingin berbagi tips bagaimana mengatasi kecemasan dalam hidup seseorang yang mengalaminya, seperti berikut:
1. Setiap masalah jangan dipendam dalam hati dan hindari duduk termenung sendiri
2. Kendalikan diri dengan membuang suver ego, tahu diri, terima sanksi dan banyak berdoa
3. Sibukkan diri dengan berdiskusi, olah raga, mengaji, sholat tahajjud (bagi orang muslim) dan baca buku yang bermanfaat dan menghibur ( berpikir dan berjiwa besar, Laa Tahzan dan buku bermanfaat lainnya)
4. Berfikir positif pada diri dan orang lain, lepaskan perasaan anda seluas mungkin dan refressing
Sumber: http://gusdibyo.wordpress.com/
Nah, gimana kira-kira? udah nggak galau, gundah gulana, gelisah alias resah lagi kan? :)
Nih, kali ini Lang akan posting sebuah catatan dari seseorang, yang menurutku bisa dijadikan sebagi renungan.
Dalam kehidupan setiap orang, pasti mengalami pasang surut perasaan. Senang versus susah, nikmat versus sengsara. Yang dominan dalam hidup kebanyakan orang adalah rasa cemas, bahkan banyak orang diatanranya yang yang memilih jalan pintas “mabuk-mabukan, atau sekalian bunuh diri”. Semua itu akibat setres dan tidak mampu mengatasi kecemasan hidupnya. Kecemasan hidup seseorang disebabkan beberapa hal, mungkin karena gagal dalam usaha, tiadak lulus dalam ujian, diputus pacar, karena menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, atau mungkin karena malu pada keluarga, tetangga karena tidak mampu hidup layak, dan sebagainya. kali ini saya ingin berbagi tips bagaimana mengatasi kecemasan dalam hidup seseorang yang mengalaminya, seperti berikut:
1. Setiap masalah jangan dipendam dalam hati dan hindari duduk termenung sendiri
2. Kendalikan diri dengan membuang suver ego, tahu diri, terima sanksi dan banyak berdoa
3. Sibukkan diri dengan berdiskusi, olah raga, mengaji, sholat tahajjud (bagi orang muslim) dan baca buku yang bermanfaat dan menghibur ( berpikir dan berjiwa besar, Laa Tahzan dan buku bermanfaat lainnya)
4. Berfikir positif pada diri dan orang lain, lepaskan perasaan anda seluas mungkin dan refressing
Sumber: http://gusdibyo.wordpress.com/
Nah, gimana kira-kira? udah nggak galau, gundah gulana, gelisah alias resah lagi kan? :)
Friday, June 12, 2009
Tidur Sendiri
Ternyata nggak enak juga ya, kalo tidur sendirian.
Iya, tentu nggak enak. Setidaknya buat diriku saat ini.
Namun, mo gimana ya? Tempatku bekerja yang jauh mengharuskan aku meninggalkan rumah dan keluarga tercintaku. Aku ngontrak di tempat yang lebih dekat dengan tempatku bekerja. Ya, tentu saja supaya aku bisa bekerja lebih tenang, karena tidak khawatir terlambat masuk bekerja.
Nah, kembali ke 'tidur sendirian' tadi.
Kadang-kadang menjelang tidur, pengen ngobrol atau sedikit berbagi cerita. Menumpahkan kegelisahan, atau berbagi kebahagiaan.
Apalagi pekerjaanku saat ini yang bergelut dengan dinamika orang, terkadang menempatkan aku dan tim dalam posisi yang dilematis.
Personalia atau HRD memang terkadang menghadapi suatu kondisi yang kurang mengenakkan. Antara penegakan peraturan dan kemanusiaan. Namun, sebenarnya tidak sesederhana itu. Bukan hanya tentang peraturan dan punishment-nya, tetapi juga tentang apa yang terjadi dengan orang yang melakukan pelanggaran peraturan, bagaimana dengan kegiatan produksi bila orang tersebut, misalnya di berikan sanksi. Bagaimana kinerjanya, bagaimana kemauan kepala seksi di tempat terjadinya pelanggaran, dll tetek bengeknya.
Belum lagi konsekuensi perlawanan dari yang terkena sanksi. Mereka mungkin karena merasa 'terdesak', melakukan perlawanan atau bahkan mungkin melakukan 'ancaman' terhadap keputusan yang diberikan. Mungkin saja itu terjadi.
Itu semua terkadang terbawa ke rumah, atau bahkan ke tempat tidur.
Disitulah kadang-kadang muncul 'kerinduan' untuk bercerita sebelum tidur. Karena katanya dengan mengungkapkan kegundahan ataupun kegelisahan hati, maka akan mengurangi beban yang ada sehingga pada saat bangun tidur, kita sudah dalam keadaan fresh dan siap bekerja kembali.
Nah, jadi buat yang belum mempunyai temen tidur, cepet-cepetlah mencari temen tidur (dalam arti yang sebenarnya, punya istri atau suami!) hehee.....
Iya, tentu nggak enak. Setidaknya buat diriku saat ini.
Namun, mo gimana ya? Tempatku bekerja yang jauh mengharuskan aku meninggalkan rumah dan keluarga tercintaku. Aku ngontrak di tempat yang lebih dekat dengan tempatku bekerja. Ya, tentu saja supaya aku bisa bekerja lebih tenang, karena tidak khawatir terlambat masuk bekerja.
Nah, kembali ke 'tidur sendirian' tadi.
Kadang-kadang menjelang tidur, pengen ngobrol atau sedikit berbagi cerita. Menumpahkan kegelisahan, atau berbagi kebahagiaan.
Apalagi pekerjaanku saat ini yang bergelut dengan dinamika orang, terkadang menempatkan aku dan tim dalam posisi yang dilematis.
Personalia atau HRD memang terkadang menghadapi suatu kondisi yang kurang mengenakkan. Antara penegakan peraturan dan kemanusiaan. Namun, sebenarnya tidak sesederhana itu. Bukan hanya tentang peraturan dan punishment-nya, tetapi juga tentang apa yang terjadi dengan orang yang melakukan pelanggaran peraturan, bagaimana dengan kegiatan produksi bila orang tersebut, misalnya di berikan sanksi. Bagaimana kinerjanya, bagaimana kemauan kepala seksi di tempat terjadinya pelanggaran, dll tetek bengeknya.
Belum lagi konsekuensi perlawanan dari yang terkena sanksi. Mereka mungkin karena merasa 'terdesak', melakukan perlawanan atau bahkan mungkin melakukan 'ancaman' terhadap keputusan yang diberikan. Mungkin saja itu terjadi.
Itu semua terkadang terbawa ke rumah, atau bahkan ke tempat tidur.
Disitulah kadang-kadang muncul 'kerinduan' untuk bercerita sebelum tidur. Karena katanya dengan mengungkapkan kegundahan ataupun kegelisahan hati, maka akan mengurangi beban yang ada sehingga pada saat bangun tidur, kita sudah dalam keadaan fresh dan siap bekerja kembali.
Nah, jadi buat yang belum mempunyai temen tidur, cepet-cepetlah mencari temen tidur (dalam arti yang sebenarnya, punya istri atau suami!) hehee.....
Tuesday, June 09, 2009
Tugas dan Perjalanan
Kemarin pagi, aku berangkat untuk melaporkan pemutusan hubungan kerja yang terjadi di kantorku. Iya, melapor, melapor ke dinas tenaga kerja di ibukota kabupaten. Bersama dengan teman satu levelku yang sekaligus seniorku.
(Sudah beberapa bulan ini aku pindah bekerja dan dipercaya membantu mengurusi karyawan di sebuah Perusahaan Jepang di daerah barat pulau Jawa ini, di bagian yang jarang disukai orang, 'personalia'). Kali ini kami juga ditemani ketua dan sekretaris serikat ditempatku bekerja. Jadi kami berempat.
Berangkat dari kantor seperti biasa, kira-kira pukul 10.00 WIB. Dalam perjalanan, obrolan ringan selalu keluar dari mulut kami sambil menikmati perjalanan dari kawasan industi menuju ibukota kabupaten di Banten itu. Apalagi dari Soleh sering banget ngocol seenaknya tentang teman-temannya. Sekretaris Serikat yang bertubuh tinggi ini memang sering mengeluarkan obrolan dan candaan yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
“Bos, yang barusan gimana, mantap nggak?”
Tiba-tiba tanya sang sekretaris serikat itu kepadaku.
Aku yang tadinya bengong-bengong aja menikmati empuknya jok mobil Suzuki APV putih milik perusahaan itu, terperanjat kaget. Hehehe…
Seraya menoleh kearah yang dimaksud, sambil memperhatikan sejenak obyek (baca: cewek) aku menjawab sekenanya: “lumayan lah...”
Mataku masih yang kulihat kearah obyek tersebut yang menurutku memang lumayan ‘bagus’.
Lamunanku sejenak melayang.
Seandainya aku ada di sampingmu,
Bercanda menikmati hari....
Dua tahun terakhir ini, sepertinya tak henti aku digoda oleh perasaanku sendiri.
Setiap kali melihat wanita cantik, sering aku membayangkan aku berada disampingnya, bercanda dan menikmati hari.
Aku tidak mengerti, mengapa perasan itu begitu mudah hadir dalam hatiku.
Sama halnya tatkala aku sampai di kantor dinas tenaga kerja tujuan kami semula.
Aku koq begitu mudah merasa simpati dengan seseorang yang ada di kantor itu. Padahal dari sisi umur, aku melihat dia mungkin sudah lebih tua lima hingga delapan tahun di atasku.
Nah loh....! ;-)
(Sudah beberapa bulan ini aku pindah bekerja dan dipercaya membantu mengurusi karyawan di sebuah Perusahaan Jepang di daerah barat pulau Jawa ini, di bagian yang jarang disukai orang, 'personalia'). Kali ini kami juga ditemani ketua dan sekretaris serikat ditempatku bekerja. Jadi kami berempat.
Berangkat dari kantor seperti biasa, kira-kira pukul 10.00 WIB. Dalam perjalanan, obrolan ringan selalu keluar dari mulut kami sambil menikmati perjalanan dari kawasan industi menuju ibukota kabupaten di Banten itu. Apalagi dari Soleh sering banget ngocol seenaknya tentang teman-temannya. Sekretaris Serikat yang bertubuh tinggi ini memang sering mengeluarkan obrolan dan candaan yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
“Bos, yang barusan gimana, mantap nggak?”
Tiba-tiba tanya sang sekretaris serikat itu kepadaku.
Aku yang tadinya bengong-bengong aja menikmati empuknya jok mobil Suzuki APV putih milik perusahaan itu, terperanjat kaget. Hehehe…
Seraya menoleh kearah yang dimaksud, sambil memperhatikan sejenak obyek (baca: cewek) aku menjawab sekenanya: “lumayan lah...”
Mataku masih yang kulihat kearah obyek tersebut yang menurutku memang lumayan ‘bagus’.
Lamunanku sejenak melayang.
Seandainya aku ada di sampingmu,
Bercanda menikmati hari....
Dua tahun terakhir ini, sepertinya tak henti aku digoda oleh perasaanku sendiri.
Setiap kali melihat wanita cantik, sering aku membayangkan aku berada disampingnya, bercanda dan menikmati hari.
Aku tidak mengerti, mengapa perasan itu begitu mudah hadir dalam hatiku.
Sama halnya tatkala aku sampai di kantor dinas tenaga kerja tujuan kami semula.
Aku koq begitu mudah merasa simpati dengan seseorang yang ada di kantor itu. Padahal dari sisi umur, aku melihat dia mungkin sudah lebih tua lima hingga delapan tahun di atasku.
Nah loh....! ;-)
Sunday, June 07, 2009
Hari Pertama
Kembali mencoba menulis dalam alunan yang mungkin berbeda.
Aku dengan ‘baju’ baru di tubuh lama, mengikuti alur cerita hati yang kadang juga ikut berubah-ubah.
Aku yang kini dengan perasaanku, dengan hati dan jiwaku, menorehkan catatan harian, mingguan atau bahkan tahunan dalam gerak langkah perjalanan. Perjalanan sang ilalang. Perjalanan ilalang liar, yang terus mencari makna sesungguhnya dari kehidupan.
Aku dengan ‘baju’ baru di tubuh lama, mengikuti alur cerita hati yang kadang juga ikut berubah-ubah.
Aku yang kini dengan perasaanku, dengan hati dan jiwaku, menorehkan catatan harian, mingguan atau bahkan tahunan dalam gerak langkah perjalanan. Perjalanan sang ilalang. Perjalanan ilalang liar, yang terus mencari makna sesungguhnya dari kehidupan.
Friday, December 05, 2008
Ada Apa Denganmu Wahai Perempuanku?
Tidakkah kau lihat langit begitu cerah? Tidakkah kau rasakan udara yang berhembus perlahan, sungguh segar dan membuat nyaman. Bukankah kau selalu jatuh cinta pada pagi yang hangat? Rasakan, pagi ini mataharipun mengajakmu kembali dalam pelukannya yang hangat, burung-burung bernyanyi riuh, seakan rindu akan senandungmu. Tapi mengapa kulihat kabut dimatamu?
Duh, seandainya saja kau membutuhkan tempat untuk berbagi, mengapa tidak kau percayai aku? Berbagilah denganku, jangan ragu untuk berbagi duka itu, jangan sungkan untuk membagi nestapa itu.
Perempuanku, aku ingin melihatmu tersenyum, aku ingin mendengarmu tertawa. Aku ingin melihat kau bercanda kembali seperti hari-hari lalu yang pernah terlewati. Tersenyumlah padaku, tertawalah bersamaku, bercandalah denganku, karena luka itu akan segera berlalu.
Bukankah setiap kita tak pernah luput dari salah dan khilaf, lalu mengapa kau salahkan diri atas semua duka yang kini singgah dalam kehidupanmu? Tak ada gunanya untuk bersikap seperti itu terus menerus, berjuanglah untuk bangkit. Ia tahu jika kau menyesal, Ia paham kau merasa berdosa, dan kau pun tahu bahwa Ia Maha Pengampun. Percayalah, Ia sangat menyayangimu, seperti ia menyayangi yang lainnya. Jangan merasa diperlakukan tidak adil, jangan merasa hina, dirimu adalah pribadi yang mandiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain, kau masih muda dan memiliki kecantikan, kau juga punya kepandaian, walau kau mungkin tidak berharta, tapi kau banyak pengalaman hidup untuk menjadikanmu kaya hati. Tapi bukankah kau selalu berusaha untuk mencintaiNya, kau selalu belajar agar selalu dekat denganNya? Aku tahu kau tak pernah berhenti mengingatNya, dalam setiap napas selalu kau sebut namaNya. Adakah yang lebih penting dari mencintaiNya dengan sungguh-sungguh? Adakah yang lebih penting dari mendapatkan cintaNya?
Aku tau kau juga selalu berusaha untuk jujur dan tetap mencintai orang yang selama ini singgah di hatimu.
Karena itu perempuanku, saat hatimu terluka, atau saat hidupmu terasa sempit, aku tahu kau mengerti bagaimana menghadapi luka, bagaimana cara menyikapi kesempitan, meski saat ini kau merasa terpuruk, merasa sendiri, merasa tak ada yang peduli, tak ingatkah kau? Bahwa Ia selalu bersamamu.
Ayolah perempuanku, saatnya kini untuk bangkit, untuk berjuang melawan kesempitan, saatnya kembali tersenyum ketika pagi tiba, saatnya kembali memulai hari dengan semangat. Biarkan luka itu menempa dirimu menjadi kuat, menjadi tegar, menjadi tangguh.
Untukmu di sana.
(diambil dan disadur dari: http://astaqauliyah.com/2006/05/17/ada-apa-denganmu-perempuanku/ belum ada izin sih.. :)
karena kemiripan alur ceritanya.
Duh, seandainya saja kau membutuhkan tempat untuk berbagi, mengapa tidak kau percayai aku? Berbagilah denganku, jangan ragu untuk berbagi duka itu, jangan sungkan untuk membagi nestapa itu.
Perempuanku, aku ingin melihatmu tersenyum, aku ingin mendengarmu tertawa. Aku ingin melihat kau bercanda kembali seperti hari-hari lalu yang pernah terlewati. Tersenyumlah padaku, tertawalah bersamaku, bercandalah denganku, karena luka itu akan segera berlalu.
Bukankah setiap kita tak pernah luput dari salah dan khilaf, lalu mengapa kau salahkan diri atas semua duka yang kini singgah dalam kehidupanmu? Tak ada gunanya untuk bersikap seperti itu terus menerus, berjuanglah untuk bangkit. Ia tahu jika kau menyesal, Ia paham kau merasa berdosa, dan kau pun tahu bahwa Ia Maha Pengampun. Percayalah, Ia sangat menyayangimu, seperti ia menyayangi yang lainnya. Jangan merasa diperlakukan tidak adil, jangan merasa hina, dirimu adalah pribadi yang mandiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain, kau masih muda dan memiliki kecantikan, kau juga punya kepandaian, walau kau mungkin tidak berharta, tapi kau banyak pengalaman hidup untuk menjadikanmu kaya hati. Tapi bukankah kau selalu berusaha untuk mencintaiNya, kau selalu belajar agar selalu dekat denganNya? Aku tahu kau tak pernah berhenti mengingatNya, dalam setiap napas selalu kau sebut namaNya. Adakah yang lebih penting dari mencintaiNya dengan sungguh-sungguh? Adakah yang lebih penting dari mendapatkan cintaNya?
Aku tau kau juga selalu berusaha untuk jujur dan tetap mencintai orang yang selama ini singgah di hatimu.
Karena itu perempuanku, saat hatimu terluka, atau saat hidupmu terasa sempit, aku tahu kau mengerti bagaimana menghadapi luka, bagaimana cara menyikapi kesempitan, meski saat ini kau merasa terpuruk, merasa sendiri, merasa tak ada yang peduli, tak ingatkah kau? Bahwa Ia selalu bersamamu.
Ayolah perempuanku, saatnya kini untuk bangkit, untuk berjuang melawan kesempitan, saatnya kembali tersenyum ketika pagi tiba, saatnya kembali memulai hari dengan semangat. Biarkan luka itu menempa dirimu menjadi kuat, menjadi tegar, menjadi tangguh.
Untukmu di sana.
(diambil dan disadur dari: http://astaqauliyah.com/2006/05/17/ada-apa-denganmu-perempuanku/ belum ada izin sih.. :)
karena kemiripan alur ceritanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)