Tuesday, February 07, 2006

Ibu Guruku Cantik sekali...

Menjadi guru yang muda memang banyak tantangannya...
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengajar di sebuah SMP swasta di suatu daerah di Sumatera. (cerita-cerita nih....)
Waktu itu aku memberikan mata pelajaran bahasa Inggris. Namun, bukan berarti saya mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang tinggi, sehingga aku bisa mengajar di sana. Waktu sekolah SMA saya sering berkomunikasi cas-cis-cus, walau blepotan sana- blepotan sini :) Nah, kebetulan guru SMP tersebut pindah kerja, sehingga kekurangan guru. Nah, karena menurut beberapa teman bahwa pelajaran SMP kategorinya 'waktu itu' masih bisa aku handle, maka jadilah saya mengajar di sana.
aku sangat menyukai pekerjaan itu. Dengan mengajar, saya semakin banyak mendapatkan ilmu. Dengan mengajar, aku semakin mengerti bahwa ilmu itu harus diberikan kepada orang lain agar bisa bermanfaat.
Saya sangat bersemangat, menumpahkan ide-ide dan cara-cara mengajar 'yang menurut' Aku (pada waktu saya sekolah SMP inginkan aku dapatkan dan) cocok untuk siswa.
Begitulah... aku mencoba memberikan warna baru. (wah... hebat banget kayaknya....)
Tapi, karena aku tidak memiliki 'background' untuk mengajar, mungkin aku 'termasuk' orang yang belum siap menerima 'terpaan' dari ceriwisnya anak-anak sekolah.
Coba bayangin...
Baru 1 bulan aku ngajar. Udah ada ce kelas 2 yang berani-berani nya datang dan menyatakan 'kangen' sama aku.
Alamak....!!! mati aku.
ini apa maksud???? :)
Terus terang, pernyataan anak tersebut membuat aku grogi kalau aku ngajar. Apalagi memang anak tersebut 'cukup manis' dan enak di pandang...
Dua bulan kemudian ada lagi anak ce kelas itu juga yang berkirim 'surat' lewat buku tugasnya. "Pak, bapak ngajar nya enak. Boleh nggak aku pacaran sama bapak?"
Waw...! mati lagi aku...!!
Kepiye iki? Kok jadi geneeee...???
Aku jadi tambah bingung dan grogi tiap ngajar di kelas itu.
Tapi, rasa grogi dan kebingungan itu tetap aku sembunyikan dan aku tahan. Hingga 3 bulan terlewati tanpa aku gubris kedua-duanya. Aku hanya terkadang tertawa sendiri, bila mereka berdua berusaha mencari-cari akal untuk mendapatkan perlakuan lebih dariku. Yang satu berusaha sok serius, kemudian bertanya seolah-olah dia tidak mengerti tentang apa yang aku terangkan, yang satunya lagi cuek bebek dan tidak mau memperhatikan....
Itu dulu.... hingga akhirnya aku meninggalkan ke-ABG-an mereka. aku memutuskan untuk pindah ke Tanah Cisadane ini untuk mencari ilmu dan pengalaman serta penghidupan.
Dan kini... saat ini, peristiwa itu terulang kembali. Aku mencoba menjadi pengajar lagi. Di sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Tapi, aku sudah lebih siap menerima 'perlakuan' mahasiswi 'nakal' yang terkadang membuatku grogi itu.
Aku sudah terbiasa mendengar kata-kata bernada merayu dan bahkan gombal.
"Bapak jangan marah ya. Soalnya kalo bapak marah, tambah ganteng..!" Atau
"Bapak pantes banget deh, kalo pake baju warna biru itu..."
"Pak boleh nggak saya belajar les ke rumah..?"
Tanpa ingin memberikan penilaian apapun terhadap siswa dan atau mahasiswi-ku, aku rasa itu semua adalah bagian dari dunia sekolah/kampus.
Hidup sekolah..!
Hidup kampus..!!
koq, gak ada hubungan sama judulnya ya..?

Monday, February 06, 2006

Pergi Untuk Kembali (Mari Bekerja)

Selamat Pagi!!!
Bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman rekan sejawat dan sejawit yang saya hormati.
ehemmm!!!
Saya perkenalkan kembali. Nama saya ilalang liar.
Pada hari ini, saya masih berkesempatan untuk hadir di tengah-tengah, eh... maksud saya, saya bisa menulis lagi. (grogi...., sambil garuk-garuk palak :))
Begitulah sambutan saya, lebih dan kurangnya saya mohon di bukakan pintunya... (hehe... pintu apaan kali).

Fantastik!
Kata pertama yang ingin saya ungkapkan.
Fantastik, karena dalam jangka waktu tidak lebih dari 6 bulan saya sudah 4 kali sya coba berganti jenis pekerjaan.
Fantastik, karena masing-masing dari 4 jenis pekerjaan yang saya coba geluti, semuanya berbeda karakternya. Mulai dari pekerjaan yang sangat kasar sampai pekerjaan yang lembut..... (bahkan sangat lembut. Tapi, bukan lelembut lho..! )
Bulan Juli 2005 saya bekerja di bengkel motor, bergelut dengan oli dan kotoran besi-besi. Bekerja dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam dengan bersimbah keringat.Bulan Agustus jadi tukang antar jemput anak sekolah, anak-anak SD kelas 1 dan 2. Bergaul dengan keluguan dan keceriaan mereka yang tanpa dosa. Bulan September-Sekarang coba ngajar di sekolah swasta. Suatu pekerjaan yang tetap saya yakini merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Bulan Oktober coba jadi penulis di harian lokal, suatu cita-cita saya yang dari dulu ingin saya lakukan. Karena dengan jadi penulis, eksistensi saya masih tetap ada. Februari ini coba lagi jadi tenaga freelance untuk ISO Project di salah satu perusahaan swasta.

Ternyata, banyak hal yang sangat indah yang saya temui dalam setiap jenis pekerjaan. Untuk itu hayoo... mari tetap untuk bekerja... :)

Thursday, June 30, 2005

Takut

Aku takut tidak bisa kembali
Aku takut tidak bisa melihatmu lagi
Aku takut...

Tapi,
Bukan itu saja yang membuatku takut
Aku takut,
bila pada saatnya aku bisa kembali
bila pada saatnya aku bisa melihatmu lagi
engkau tidak mengenaliku lagi.

mohon pamit....

Monday, June 06, 2005

Peace Maker or Peace Keeper

Waktu usia kira-kira sembilan tahun atau lebih sedikit, saat saya duduk dikelas 3 eSDe, saya mulai dikenalkan pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang di singkat IPA. Karena sekolah saya di daerah, maka sangat terbatas sekali alat peraga yang digunakan oleh guru saya waktu itu. Saya ingat waktu itu, untuk melihat 'bentuk dunia' yang kami menyebutnya 'bola dunia' (globe), kami harus mengumpulkan beberapa puluh rupiah dari dari orangtua kami, kemudian dikumpulkan oleh guru untuk dibelikan bola dunia ke kota. Kami merasa bersyukur karena selain alat-alat peraga yang harus dibeli tersebut; ternyata kami memiliki banyak hal yang bisa kami lihat secara langsung. Seperti berbagai jenis tumbuhan dan binatang, kami tinggal melangkah ke belakang sekolah, karena ada semak belukar, bahkan hutan belantara. Dengan mudah sekali kami menemukan jenis pepohonan atau tumbuhan yang disebutkan dalam buku pelajaran. Begitupun dengan hewan-hewan. Kami sangat mengenal hewan tupai, monyet bahkan babi hutan dan harimau. Sesuatu yang bagi teman-teman kami yang berada di perkotaan, hanya dapat dilihat lewat alat peraga. Atau kalau memang berkecukupan, harus melihat ke Kebun Binatang. :)
Lebih mengenal alam, itu yang banyak kami rasakan pada saat itu. Kamipun diminta 'mempraktekkan' langsung dalam menanam berbagai tanaman dan pepohonan yang tumbuh di hutan di lingkungan sekolahan kami. Alam akan selalu bersahabat dengan mereka yang menjaganya. Begitu kata pak guru kami waktu itu. Jadilah orang yang mengelola alam dengan 'keseimbangan', kalau tidak bisa, minimal jangan merusaknya.
Be Peace Maker or Peace Keeper, tampaknya apa yang guru saya sampaikan itu masih sangat relevan untuk saat ini.
Terimakasih Pak Guru dan Ibu Guru....

*saat teringat guru SD saya*

Thursday, June 02, 2005

Mulai dari hal-hal kecil

Sederhana saja: mulailah dari hal-hal kecil!
Kata-kata itu sangat sering kita dengar. Tapi, sangat sering pula kita 'lupa' akan pesan moral yang ada dalam kata-kata tersebut.
Membuka kembali dongeng cerita yang berjudul 'Harta Karun Yang Tertinggal' mengingatkan kembali ingatan saya akan begitu dahsyatnya pesan moral yang terkadang kita lupakan.
Konon, di suatu desa di jaman dahulu kala. Seorang petani miskin mempunyai lima orang putra. Sayang kelima putranya itu hanya bermalas-malasan saja, tidak mau membantu pekerjaan bapaknya di sawah. Sudah berkali-kali bapaknya menasehati mereka agar jangan bermalas-malasan saja, tapi semua itu tiada diindahkan oleh anak-anaknya. Tentu saja petani itu harus bekerja keras agar dia dapat mencukupi kebutuhan anak-anaknya itu. Karena umur yang semakin tua dan tidak ada yang membantu pekerjaanya, maka suatu hari si petani itu jatuh sakit. Semakin hari sakitnya kelihatan semakin parah.
Anak-anaknya kebingungan, sebab tidak ada yang mengurusi sawah mereka. Apalagi bapaknya semakin kurus dan hampir-hampir tidak bisa bicara.
Malam harinya si petani meminta anak-anaknya berkumpul. Setelah berkumpul semua, berkatalah dia kepada anak-anaknya.
"Anak-anakku... sakit bapak semakin parah. Mungkin usia bapak sudah tidak lama lagi....."
Anak-anaknya semua diam, tidak sanggup berkata apa-apa.
"Bapak, ingin menyampaikan bahwa:.... di sawah kita ada harta karun....."
Anak-anaknya terperanjat!
"Ada harta karun di sawah kita...?" ucap mereka serentak.
"iya.... galilah.... uhuk-uhukk..!" jawab bapak mereka.
"di mana pak? dimana...?"
Bapak itu ternyata sudah tiba ajalnya tanpa sempat memberitahukan dimana tempat harta karun itu berada.
Esok harinya, kelima anak-anak petani miskin itu mulai menggali. Sehari belum mereka temukan, mereka lanjutkan lagi esok harinya. Sehingga semua sawah mereka tergali dengan cangkul-cangkul mereka. Anak tertua berinisiatif untuk menanami dengan padi, karena sawah mereka sudah siap untuk ditanami.
Tanaman padi mereka tumbuh subur, hingga tibalah waktu panen mereka.
Sawah itu menghasilkan padi yang begitu banyak, sehingga mereka dapat menjual sebagian dari hasil panenan sawah itu.
"saya rasa, inilah harta karun yang bapak maksudkan..."
salah seorang anak petani itu berkata.....

Sederhana sekali bukan? :) *maaf tiada maksud menggurui... *


Tuesday, May 17, 2005

Rindu Aku

Dalam proses musyawarah yang begitu banyak memakan energi kami selaku Tim Perunding, baik itu dari pihak Pekerja, maupun dari pihak Manajemen Perusahaan telah dicapai kesepakatan tentang penyesuaian upah dari tahun 2004.
Walaupun dari pihak Manajemen merasa 'cukup' berat dengan apa yang diminta oleh pihak Serikat, akhirnya pada tanggal 26 April 2005 yang lalu disepakati penyesuaian upah untuk tahun 2005 ditambah sebesar 9.5% dari upah tahun 2004, ditambah uang sekali bayar sebesar 50% dari upah.
Namun, ternyata persoalan muncul kembali dalam penyusunan Struktur Upah. Karena dari pihak Manajemen Perusahaan 'menganggap' perlu membayar lebih untuk pekerja dengan skill dan jabatan. Dari sisi Manajemen yang sehat, saya melihat 'hal itu' adalah sangat positif dan baik. Tapi, pembayaran lebih untuk pekerja yang memiliki 'Tunjangan Keahlian' atau 'Tunjangan Jabatan' harus-lah diambil dari pos lain, bukan dari pos 'penyesuaian gaji ini'.
Yang berlaku selama ini di kantor saya selama ini adalah, persentase penyesuaian adalah sama. Artinya bila, katakanlah si-A dengan jabatan tertentu memiliki gaji 2.000.000 (dua juta) maka dengan penyesuaiannya ditambah 2.000.000 x 9.5% yaitu sebesar 190.000. Begitupun dengan karyawan yang tidak memiliki jabatan, katakanlah si-B tanpa memiliki tunjangan keahlian dan atau tunjangan jabatan memiliki gaji 1.000.000 (satu juta) maka dengan penyesuaiannya ditambah 1.000.000 x 9.5% yaitu sebesar 95.000.
Nah, untuk tahun ini Manajemen Perusahaan kondisinya dirubah! Pihak Manajemen Perusahaan 'menganggap' perlu membayar lebih untuk pekerja dengan skill dan jabatan!
Sekali lagi dari sisi Manajemen yang sehat, saya rasa itu adalah baik!
Tapi, dari sisi keseimbangan dan keadilan hali itu tidak bisa kami sepakati. Hal ini disebabkan tidak semua gaji Pekerja akan menerima penyesuaian sesuai persentase yang telah disepakai yaitu sebesar 9.5%, karena tidak semua pekerja memiliki 'Tunjangan Keahlian' atau 'Tunjangan Jabatan'.
Dilema bukan?
Rindu aku, rindu kami pada Manajemen Perusahaan yang tidak hanya mengedepankan unsur bisnis semata, tetapi mau memperhatikan hal-hal yang bersifat 'kebersamaan' dalam 'keadilan'....