Thursday, June 02, 2005

Mulai dari hal-hal kecil

Sederhana saja: mulailah dari hal-hal kecil!
Kata-kata itu sangat sering kita dengar. Tapi, sangat sering pula kita 'lupa' akan pesan moral yang ada dalam kata-kata tersebut.
Membuka kembali dongeng cerita yang berjudul 'Harta Karun Yang Tertinggal' mengingatkan kembali ingatan saya akan begitu dahsyatnya pesan moral yang terkadang kita lupakan.
Konon, di suatu desa di jaman dahulu kala. Seorang petani miskin mempunyai lima orang putra. Sayang kelima putranya itu hanya bermalas-malasan saja, tidak mau membantu pekerjaan bapaknya di sawah. Sudah berkali-kali bapaknya menasehati mereka agar jangan bermalas-malasan saja, tapi semua itu tiada diindahkan oleh anak-anaknya. Tentu saja petani itu harus bekerja keras agar dia dapat mencukupi kebutuhan anak-anaknya itu. Karena umur yang semakin tua dan tidak ada yang membantu pekerjaanya, maka suatu hari si petani itu jatuh sakit. Semakin hari sakitnya kelihatan semakin parah.
Anak-anaknya kebingungan, sebab tidak ada yang mengurusi sawah mereka. Apalagi bapaknya semakin kurus dan hampir-hampir tidak bisa bicara.
Malam harinya si petani meminta anak-anaknya berkumpul. Setelah berkumpul semua, berkatalah dia kepada anak-anaknya.
"Anak-anakku... sakit bapak semakin parah. Mungkin usia bapak sudah tidak lama lagi....."
Anak-anaknya semua diam, tidak sanggup berkata apa-apa.
"Bapak, ingin menyampaikan bahwa:.... di sawah kita ada harta karun....."
Anak-anaknya terperanjat!
"Ada harta karun di sawah kita...?" ucap mereka serentak.
"iya.... galilah.... uhuk-uhukk..!" jawab bapak mereka.
"di mana pak? dimana...?"
Bapak itu ternyata sudah tiba ajalnya tanpa sempat memberitahukan dimana tempat harta karun itu berada.
Esok harinya, kelima anak-anak petani miskin itu mulai menggali. Sehari belum mereka temukan, mereka lanjutkan lagi esok harinya. Sehingga semua sawah mereka tergali dengan cangkul-cangkul mereka. Anak tertua berinisiatif untuk menanami dengan padi, karena sawah mereka sudah siap untuk ditanami.
Tanaman padi mereka tumbuh subur, hingga tibalah waktu panen mereka.
Sawah itu menghasilkan padi yang begitu banyak, sehingga mereka dapat menjual sebagian dari hasil panenan sawah itu.
"saya rasa, inilah harta karun yang bapak maksudkan..."
salah seorang anak petani itu berkata.....

Sederhana sekali bukan? :) *maaf tiada maksud menggurui... *


Tuesday, May 17, 2005

Rindu Aku

Dalam proses musyawarah yang begitu banyak memakan energi kami selaku Tim Perunding, baik itu dari pihak Pekerja, maupun dari pihak Manajemen Perusahaan telah dicapai kesepakatan tentang penyesuaian upah dari tahun 2004.
Walaupun dari pihak Manajemen merasa 'cukup' berat dengan apa yang diminta oleh pihak Serikat, akhirnya pada tanggal 26 April 2005 yang lalu disepakati penyesuaian upah untuk tahun 2005 ditambah sebesar 9.5% dari upah tahun 2004, ditambah uang sekali bayar sebesar 50% dari upah.
Namun, ternyata persoalan muncul kembali dalam penyusunan Struktur Upah. Karena dari pihak Manajemen Perusahaan 'menganggap' perlu membayar lebih untuk pekerja dengan skill dan jabatan. Dari sisi Manajemen yang sehat, saya melihat 'hal itu' adalah sangat positif dan baik. Tapi, pembayaran lebih untuk pekerja yang memiliki 'Tunjangan Keahlian' atau 'Tunjangan Jabatan' harus-lah diambil dari pos lain, bukan dari pos 'penyesuaian gaji ini'.
Yang berlaku selama ini di kantor saya selama ini adalah, persentase penyesuaian adalah sama. Artinya bila, katakanlah si-A dengan jabatan tertentu memiliki gaji 2.000.000 (dua juta) maka dengan penyesuaiannya ditambah 2.000.000 x 9.5% yaitu sebesar 190.000. Begitupun dengan karyawan yang tidak memiliki jabatan, katakanlah si-B tanpa memiliki tunjangan keahlian dan atau tunjangan jabatan memiliki gaji 1.000.000 (satu juta) maka dengan penyesuaiannya ditambah 1.000.000 x 9.5% yaitu sebesar 95.000.
Nah, untuk tahun ini Manajemen Perusahaan kondisinya dirubah! Pihak Manajemen Perusahaan 'menganggap' perlu membayar lebih untuk pekerja dengan skill dan jabatan!
Sekali lagi dari sisi Manajemen yang sehat, saya rasa itu adalah baik!
Tapi, dari sisi keseimbangan dan keadilan hali itu tidak bisa kami sepakati. Hal ini disebabkan tidak semua gaji Pekerja akan menerima penyesuaian sesuai persentase yang telah disepakai yaitu sebesar 9.5%, karena tidak semua pekerja memiliki 'Tunjangan Keahlian' atau 'Tunjangan Jabatan'.
Dilema bukan?
Rindu aku, rindu kami pada Manajemen Perusahaan yang tidak hanya mengedepankan unsur bisnis semata, tetapi mau memperhatikan hal-hal yang bersifat 'kebersamaan' dalam 'keadilan'....

Wednesday, April 06, 2005

Vacuum....!

Dikarenakan masih menumpuknya tugas saya sebagai salah seorang 'Tim Perunding' untuk kenaikan gaji (Base-Up) di kantor saya, maka Blog ini 'terpaksa' akan lama tidak di-update. Kepada teman-teman mohon maaf, saya kemungkinan akan lama tidak berkunjung ke tempat anda. Have a nice day every body...

Thursday, March 24, 2005

Pertempuran itu sudah dimulai?

Tatkala mampir di tempatnya seorang teman lama yang berkebangsaan Malaysia, yang dalam blognya tertera tajuk "Ganyang Malaysia 2", saya sempat tertegun.
Ternyata Pertempuran Ambalat sudah dimulai di dunia maya ini.
   Kontroversi kepemilikan Kepulauan Ambalat yang menyeruak tatkala Malaysia memberikan ijin ekplorasi kepada Perusahaan Belanda Shell untuk 'mencari' keberadaan emas hitam (minyak), ternyata telah memakan energi kita sebagai warga, baik itu yang berkebangsaan Malaysia terlebih bagi warga Indonesia.
Terlepas benar tidaknya argumen masing-masing pihak, tentang kepemilikan kepulauan yang di 'duga' mempunyai kandungan minyak itu, sudahkah kita mengenali lebih jauh, apa dan dimana 'sesuatu' yang kita claim sebagai milik kita itu?
   Salah satu koran ibukota, menerbitkan laporan khusus tentang penduduk yang berada di kepulauan Ambalat itu. Menurut koran tersebut, warga yang ada di Kepulauan Ambalat itu, mengaku dan merasa dirinya sebagai warga negara Indonesia, tetapi dalam perputaran roda ekonomi mereka, mereka 'lebih' mengenal ringgit daripada rupiah. Dalam dunia perdagangan, mereka menawar dan membeli barang dengan harga ringgit. Dan yang menjadi 'kurang' enak di baca oleh saya sebagai warga Indonesia, mereka juga menerima tayangan siaran televisi dari Malaysia, bukan dari Indonesia. Hal ini dikarenakan siaran yang dapat ditangkap adalah siaran dari Malaysia.
   Sebagai warga Indonesia dari suku Melayu, saya merasakan kepedihan yang mendalam tentang adanya 'perbedaan' tentang kepemilikan pulau ini. Saya juga merasa bahwa bangsa Indonesia tidak perlu berperang dengan Malaysia kalau memang pulau Ambalat itu secara de jure dan de facto adalah milik Indonesia. Namun, saya-pun juga tidak bisa menerima bila Malaysia memberikan hak pengelolaan kepada NEGARA LAIN (Yang dulu negara itu pernah menjajah Indonesia) atas KEPULAUAN yang masih dalam SENGKETA (?) itu.
   Sebagai warga, saya memang tidak mengerti banyak tentang kepentingan apa di balik ini semua. Tapi, bila kita adu 'kekuatan' yang diambil sebagai jalan, entah apa jadinya DUA NEGARA yang MENGAKU ADIK-KAKAK ini.
Masalah sengketa perbatasan, bukan hanya terjadi dalam kawasan besar antara negara dengan negara. Tapi, bahkan sampai tingkat Propinsi, Kabupaten, Kecamatan bahkan Kampung dan Desa.
   Kita lihat, di Palestina sana. Kemudian, di Korea, di China dan Taiwan dengan Jepang dan lain-lain. Semuanya memakan korban yang tidak sedikit, dan menimbulkan luka yang mendalam. Begitupun dengan di dalam kehidupan yang paling akrab yang kita alami. Sengketa tanah di sekitar rumah kita.
Kita kadang tidak bertegur sapa dengan tetangga sebelah, karena air dari pelimbahan rumahnya jatuh di tanah yang kita claim milik kita. Masih banyak contoh lain, tentang sengketa perbatasan.
   Sengketa, memang akan selalu terjadi dalam kehidupan kita. Tapi, menyelesaikannya dengan baik dan ber'etika' tinggi tentu MENJADI HARAPAN KITA semua.
Semoga...

Wednesday, March 09, 2005

Menterjemahkan Sikap 'Seseorang' Terhadap Kita

Dalam suatu kesempatan saya mendapatkan imel dari seseorang yang mengaku pernah berkunjung dan membaca blog saya. Seperti biasa, sebagai perkenalan, dia memperkenalkan diri, nama dan darimana mendapatkan imel saya.
Setelah berbasa-basi, masuk ke pokok persoalan.
"LANG, SAYA MAU CURHAT NIH...! TENTANG PERSOALAN YANG SAYA HADAPI SEKARANG!"
Wah, dalam hati saya berkata "berarti saya jadi konsultan nih sekarang..." hehehe... *mode ge-er*
"Di kantor, saya mempunyai seorang teman yang pada saat bertemu dengan saya sudah mempunyai teman (pacar). Dari perjalanan pertama hingga tiga bulan ini, saya menyadari bahwa saya telah menemukan 'seseorang' yang betul-betul menggetarkan hati saya". begitu lanjutan imelnya.
BAH!!! Ternyata orang ini pengen cerita bahwa dia jatuh cinta. Alamak...
"Saya dan dia sudah sangat akrab. Kami sering pergi berdua, makan bersama dan sebagainya. Tapi, kadang saya merasa 'sakit' bila dia bercerita tentang 'pacarnya'. Padahal dari sikap dan perlakuannya padaku, saya yakin dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan yang aku rasakan".
Wah-wah.... Dalam hati saya membatin, 'cewek ini memegang prinsip bahwa selama janur kuning belum melengkung di depan rumah, berarti kita masih berhak untuk mendapatkannya...' hehehe...
"Lang, mungkin kamu mengatakan 'tampaknya' saya begitu yakin, bahwa dia menyukai saya, bahkan mencintai saya. Tapi hati saya mengatakan bahwa itu BETUL adanya. Memang, sampai saat ini, kami belum menyatakan perasaan kami masing-masing. Diapun masih berstatus 'pacaran' dengan teman wanitanya. Ini yang membuat saya kebingungan. Disatu sisi, saya menginginkan kejelasan status saya SEBAGAI PACARNYA, bukan hanya sebatas teman, atau 'adik-kakak' yang sama sekali menurutku hanya sebagai 'simbol' semata..."
"Menurut kamu gimana Lang. Haruskah saya menyatakan APA YANG SAYA RASAKAN? Atau haruskah aku menunggu ucapan itu dari dia, sedangkan status dia masih berpacaran dengan teman wanitanya? Saya resah Lang, saya gelisah, bahkan semalam saya tidak bisa tidur memikirkan hal ini...."
"Tolong ya Lang, kasih saya solusinya... Thanks - Someone"

Sehabis membaca imel itu, aku jadi tersenyum. PERSOALAN KLISE! Tercetus dalam bibir saya. Tapi, upss! Tunggu dulu. Ini persoalan serius, yang seringkali dihadapi oleh siapa saja. Ini menyangkut masalah PERASAAN, reaksi kita MENYIKAPI Perlakuan orang lain, dan 'Soal Kecocokan'!
Berdua, terkadang menumbuhkan benih-benih perasaan
Kita, memang terkadang terbawa oleh perasaan kita TERHADAP perlakuan, atau sikap orang lain terhadap kita. Perlakuan yang baik, sopan dan 'nyambung' dengan apa yang kita fikirkan, akan membuat kita memberikan nilai plus kepada orang tersebut, bahkan kita-pun kadang langsung 'menafsirkan' diri bahwa kita 'sudah jatuh cinta' pada orang tersebut. Upss...! Maaf. Itu mungkin berlebihan. Tapi, kadang memang begitu. Kita terkadang menjadi 'terkecoh' dengan sikap dan kebaikan seseorang. Kebaikan dan perhatian seseorang (bahkan yang menurut kita sudah berlebihanpun) tidak bisa selalu diterjemahkan bahwa 'orang tersebut' menyukai kita, atau mencintai kita.
Gimana nih menurut anda...?


Untuk seseorang yang berkirim imel itu, bila engkau membaca postingan saya ini, jangan tersinggung ya... :)

Monday, March 07, 2005

10000 visitors

Hari ini, tepatnya siang tadi saya iseng-iseng melihat statistic pengunjung. Dan, ternyata jumlahnya genap 10.000 (baca SEPULUH RIBU!). Waw! Saya tidak menyangka, nama 'ilalang liar' telah mendunia... hehehe *mode ge er nih...*.
jumlah temen yang datang...
Angka itu sebenarnya bukan merupakan jumlah 'ril' pengunjung, tapi HANYA merupakan 'JUMLAH CLICK' ke blog saya; baik itu oleh saya sendiri, maupun oleh teman-teman atau para 'explorer blogs' lainnya, atau bahkan para 'searcher' melalui searching engine.
Saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua teman yang telah berkunjung, yang selalu kasih komentar, kasih pendapat, ataupun hanya cari-cari, baca-baca atau 'SAY HELLO' dan menanyakan kabar.
Tampaknya tidak berlebihan saya mengucapkan terima kasih pada om dien (hehehe... dulu saya salah, kirain laki-laki..); om kullasyah yang waktu itu ngajarin saya insert-in flash sampai-sampai imel saya di obrak-abrik, hehehe... dan seseorang yang pernah mengisi hari-hariku, karena waktu itu banyak hal yang aku tulis atas inspirasi darinya; ilalangliarku (entah siapa dirimu); blogmu memberikan inspirasi atas penamaan blog saya ini (terima kasih); amma yang waktu itu sering bertanya (padahal saya sendiri masih awam dalam perblog-an :) ); sa yang membuatku bangkit kembali untuk menulis di blog ini, karena menurutnya (waktu itu) blog saya menjadi salah satu faktor pendorong baginya membuat blog dan semua teman yang lain. Mereka memberikan andil yang sangat besar dalam kelangsungan blog ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih atas free hosted (saya bingung menterjemahkannya ke dalam bahasa Indoensia) kepada blogger; kepada doneeh (walau sekarang saya tidak memakai fasilitas gratis mereka); kepada HaloScan atas fasilitas komentarnya, photobucket atas fasilitas image storenya, wbloggar atas blog utiliy yang membuat saya bisa update walau jarang on line; dan tentu saja pada wdcreez fasilitas ShoutBox teranyar. Dan yang tidak boleh dilupakan tentu saja pada semua visitor yang membuat saya selalu merasa kangen atas komentar, pendapat dan sapaan dari kalian semua... HIDUP PARA BLOGGER!