Monday, November 01, 2004

Suara Hati

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus diambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah nafas dalam-dalam dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah, dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarlah hatimu. Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah dan pergilah ke mana hatimu membawamu. (Va'dove ti porta il cuore, Susana Tamaro)

Disaat keinginan, cita-cita dan harapan yang tumbuh dan berkembang di Samudera Angan, disaat langkah terasa sudah kehabisan energi karena selalu pada tapak yang kita rasa 'gagal', terkadang kata hati harus kita dengarkan.

Monday, October 18, 2004

Hubungan Antar Manusia

Dari judulnye, jelas-jelas gue mo ngomong serius! serius banget... hehehe.. ;)
Tadi siang, dari jam 13.00 ampe jam 14.30 gue bersama temen-temen pengurus Serikat Pekerja nyang laen di tempat kerja, melayangkan surat Pemanggilan bagi pekerja asing (pekerja dari Jepang) yang dianggap 'sudah melenceng' dari tugasnya sesuai job deskripsi yang diperuntukan buat die.
Jadilah gue yang melakukan 'tuntutan' setelah gue dan didukung sama temen-temen nyang laen memaparkan kasus-kasus ntu orang Jepun dan keluhan-keluhan dari temen-temen gue di lapangan. Tuntutan kite sih, cuman mentak si Jepun itu di kembalikan ke habitatnya.... weks..!!!

Begitulah.
Ternyata hubungan antar manusia, lebih sering bermasalah karena 'misunderstanding' dan 'miskomunikasi'. Ntu si Jepun, memang udah ampir 6 taonan di Indo. tapi kalo soal nomong, tetep aja nyerocos make boso Londo.. eh, boso Jepun..! sahingga, ya sahingga, kite-kite nyang di lapangan pada bengong. Akibatnye... si Jepun marah-marah...!!!
alamak....!!!
Temen-temen di lapangan akhirnya pade ngadu ama kite-kite nyang jadi wakil mereka-mereka. Menurut temen-temen, kalo ini terjadi terus, bisa jadi terjadi 'tonjok-menonjok'. Wah, gawat!!!
mangkanye, kite punya inisiatif (daripade terjadi tonjok menonjok, kan gawat) supaye si Jepun itu di pulangin aje..
Tau dah Manajemen perusahaan mao apa kagak....

------ Lang lagi lieur nih... :) --------

Tuesday, October 12, 2004

Satu Minggu Dalam Perenungan

Saat kegelisahan itu datang
Aku paksakan tenang
menapaki setiap langkah
Tiada berarti
Bukan kemana aku melangkah
Tapi mengapa aku melangkah

Hari-hari seperti tidak bertujuan
Siang habis oleh kepenatan
malam berlalu dengan kegalauan

Ada sejemput tanya dalam rongga dadaku
Apakah memang hidup adalah perputaran?

Monday, October 04, 2004

Menikah!

Senang, gembira, bahagia bercampur haru. Saat menyaksikan pernikahan saudara saya dengan prosesi pernikahan adat Jawa di Sragen Jawa Tengah. Walaupun dalam silsilah keluarga, saudara saya ini sudah termasuk jauh, tapi dalam hal kedekatan ikatan bathin, kami sangat dekat. Sehingga, saya diminta hadir, bahkan menjadi saksi pada akad nikahnya. Hari Minggu-Senin-Selasa, 26-27-28 September 2004 yang lalu.
Banyak perbedaan signifikan yang saya temui dalam prosesi pernikahan ini bila di bandingkan dengan upacara pernikahan memakai adat Sumatera Selatan.
Di Sragen sana, mungkin juga untuk banyak daerah di Jawa Tengah, terutama Solo dan sekitarnya, upacara pernikahan antara lain ada prosesi SIRAMAN, INJAK TELUR, SUNGKEM dan lain-lainnya yang saya lupa namanya :) Yang jelas, Prosesi pernikahan itu dilaksanakan Tiga hari tiga malam terus menerus. Walah-walah!!! Badan terasa pegel-pegel, lemes dan kaku. Apalagi, kami dari keluarga PENGANTIN KAKUNG (Pengantin Pria) juga diminta memakai pakaian adat Jawa, dengan keris di belakang. Sehingga posisi tubuh harus selalu tegak lurus, termasuk pada saat duduk....
Kalau yang sudah biasa sih, mungkin ok-ok saja. Tapi, saya yang tidak terbiasa dengan pakaian adat seperti itu cukup 'tersiksa' juga. hehehe...
Selamat menempuh hidup baru saudaraku, semoga menjadi keluarga yang bahagia sampai kakek nenek....

Friday, September 17, 2004

Selesai Juga

Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya perundingan perubahan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang dulu biasa di sebut Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) selesai juga. Dari Perkiraan awal, perundingan direncanakan maksimal 10 kali pertemuan. Eh, ternyata perundingan tersebut berlarut hingga 36 kali pertemuan.
"Bah!!!! mengapa pulak, bisa lambat kali????"
Pertanyaan itu sering disampaikan teman-teman sesama pekerja di kantor saya.
Saya sendiri yang kebetulan ditunjuk sebagai team leader, merasakan betapa teman-teman menginginkan adanya peningkatan kesejahteraan. Disisi pekerja, tentu saya sangat maklum dan sayapun menginginkan hal itu. Dari pengamatan saya, isi KKB I hingga KKB VIII masih berisi hal-hal normatif, artinya masih berada di sekitar peraturan ketenagakerjaan yang ada. Sahingga, ya sahingga, :P saya berniat dan bertekad dalam KKB IX (sekarang namanya jadi PKB itu) agar hal-hal yang berhubungan dengan kesejahteraan pekerja lebih ditingkatkan, bukan hanya sebatas normatif, tetapi melihat kondisi perusahaan (yang menurut saya dan teman-teman satu kantor) saat ini cukup sehat dan dapat bersaing. Maka, saya bersama teman-teman satu team antara lain mengajukan penambahan jumlah THR, BONUS Tahunan dan Akhir Tahun, Biaya Kesehatan untuk Keluarga pekerja, Sistem Penilaian Yang Lebih Fair, Fasilitas Pekerja (Seragam, Kantin, Safety, Rest Room, Olahraga, dsb), Tour, Sistem Kerja Yang Nyaman, sampai ke masalah PENSIUN.
Dari sisi perusahaan, tentu mereka menginginkan efisiensi besar-besaran, kalau ada biaya-biaya yang bisa dipangkas, tentu perusahaan menginginkan itu terjadi. Perusahaan tentu menginginkan mendapat profit sebesar-besarnya.
Nah, dari kuatnya kedua kepentingan tersebut menyebabkan ada beberapa hal yang harus kami bicarakan dengan meminta pendapat pihak ketiga, yaitu depnaker, sehingga di dapatkan anjuran dari pihak ketiga. Tetapi, inipun masih diperlukan keingingan dari masing-masing pihak untuk menyelesaikan masalah (KESEJAHTERAAN di mata pekerja, tetapi COST bagi pihak perusahaan) ini.
Tentu saja, itu memakan energi dan fikiran kita. Baik itu bagi perusahaan, maupun team yang mewakili pekerja. Dengan semangat untuk tetap Win-Win solution, perusahaan dan pekerja terus berusaha untuk mencari jalan terbaik.
Alhasil, pada hari Jum'at 3 September 2004 perundingan PKB IX bisa kami selesaikan, dan kemarin Kamis tanggal 9 September 2004, saya dan seluruh team perunding bersama Top Management Perusahaan MAKAN-MAKAN BERSAMA di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta. Asyik.......!!!

Friday, September 10, 2004

Luka Itu

Tersentak!!!
Saat teman saya yang barusan menerima telepon dari istrinya berkata dengan nada sangat kawatir!
"Lang, barusan kira-kira 5 menit yang lalu, bom meledak di dekat kantor istri saya!"
"apa???!" Saya betul-betul tersentak! "Dimana?"
"Di Kuningan, dekat kedubes Australi, tadi istri saya bilang begitu"
"Terus...?"....................

Hari Rabu dan Kamis saya berada di Hotel Ashton Atrium - Senen untuk mengikuti seminar tentang Ketenagakerjaan. Seminar ini diikuti peserta dari berbagai propinsi. Termasuk Papua, Jawa Timur, Jambi, Riau, Halmahera (Maluku), Jawa Barat, Banten dan banyak lagi.
Dengan kejadian BOM di Kuningan itu, KONSENTRASI kami buyar.
Karena kami sedang seminar di hotel Amerika, yang konon juga menjadi sasaran BOM.
Sehingga, banyak yang memutuskan untuk pulang duluan dan tidak melanjutkan mengikuti seminar itu lagi....

Ya Tuhan!
ADA APA INI???
Apa yang terjadi dengan negeriku ini?
Saya tidak bisa menahan air mata, saat menyaksikan dari TV betapa nyawa-nyawa begitu murah dihargai. Betapa, orang dapat menghalalkan segala cara untuk mencabut nyawa orang lain. Betapa, kesedihan dan isak tangis terdengar dimana-mana.
Semoga para korban peledakan bom itu, mendapat tempat yang layak di sisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan selalu tabah dan sabar menghadapi musibah ini... amin...