Cerita ini saya dapatkan dari berselancar di website dan tanpa sengaja mampir di salahsatu account facebook.
by Dhee Aiiraa Puthriie Pohan on Sunday, 18 March 2012 at 01:38 (facebook account)
Begini yang tertulis di facebook itu:
Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum... ^_^
"Ukhty, boleh saya cerita sedikit?" dia melanjurkan. "Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat."
“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astaghfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti bekerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.
Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..
sumber: Dhee Aiiraa(trmksh atas ceritanya) inspiratif banget...
Tampilan terbaik menggunakan FireFox. Sajak, puisi, pemikiran, keriuhan, kegalauan, kesendirian, kesepian dan kegembiraan anak manusia. Bagi yang ingin mengirim kisah tentang kesepian atau kegembiraan anda atau yang ingin menjalin persahabatan dan atau ingin berbagi pengalaman pribadi - silahkan via ilalangliar@gmail.com - saya akan menyambut dengan welcome. Ilalang Liar
Sunday, March 03, 2013
Thursday, September 20, 2012
Aku Disini, di salah satu sudut kota ini...
Ketika penat melanda tubuh, rasanya tiada lain yang ingin aku lakukan selain kembali dalam ruang kamarku dan tidur... :)
Terus terang, rasanya kepalaku penuh..
Rasanya banyak yang ingin aku ceritakan, rasanya banyak sekali yang ingin aku sampaikan. Tentang hari-hari pertama aku berada di kota minyak di Timur pulau Kalimantan ini, atau tentang pertemuanku dengan teman lama satu SMA-ku dulu.
Atau tentang hari-hari pergulatanku dalam menyesuaikan diri dengan rekan-rekan kerja baruku. Baru pertama menginjakkan kakiku di kantor baru, sudah bertumpuk cerita tentang tingkah pola teman-teman baruku.
'Awas hati-hati lho sama dia, mas... orangnya arogan!'
atau 'dia itu orangnya kalem lho mas, tapi kalo dia udah ngga seneng sama oran, wah...'
atau 'mas, itu pak de, orang paling senior disini. harus jaga diri lho..'
Atau ingin rasanya aku menceritakan tentang 'harga makanan' disini yang menurutku bisa dua atau tiga kali harga makanan di Tangerang dan sekitarnya... waw...
hmmmmm......
Rasanya banyak sekali yang ingin aku ceritakan.
Tapi...
Aku ngga tahu harus memulai dari mana. Aku ngga tahu darimana semuanya harus aku mulai ceritakan, darimana aku rangkaikan dalam cerita di blog ini.
Rasa inginku, sepertinya hanya sebatas 'ingin' belaka, tertutup oleh ketidakmengertianku.
Imajinasiku tidak dapat tertuang dalam rangkaian kata-kata disini.
Jari-jariku rasanya tidak seirama dengan keinginanku tuk bercerita banyak tentang keadaaanku disini...
//////////atau... apakah memang hatiku sedang penat dengan keadaaan ini?\\\\\\\\
Tangerang, rasanya ingin aku kembali...Balikpapan, Kamis, 20 September 2012 10:43 PM WITA
Sunday, September 16, 2012
Salah Satu Master XL telah kembali padaNya
Siapa
yang tidak mengenal Siti Vi Dia adalah seorang tokoh Excel Indonesia yang aktif menjadi moderator dan kontributor dua milis Excel (XL-Mania dan Belajar-Excel). Tak banyak orang yang tahu tentang sosok beliau yang sesungguhnya, karena dalam bermilis, beliau menggunakan nama imajiner, Mbak Siti Vi. Gayanya yang kocak dan khas dalam menjelaskan berbagai problem excel, menjadikan pembaca lebih mudah memahami berbagai konsep yang sudah. Sungguh tak ada duanya.
Siapa Sangka Bahwa Nama Siti Vi adalah hanya Nama Samaran, Dia Adalah Seorang Laki-laki yang Bernama Aseli : Mabrur Masyhud.
Hari Kamis, tanggal 13 September 2012 Kemaren Beliau telah Berpulang Ke Rahmatullah....
Ane turut berbelasungkawa atas wafatnya salah seorang Master Excel Indonesia, Mabrur Masyhud, atau yang lebih dikenal dengan Setyowati Devi /Mbak Siti Vi /Ctv karena serangan penyakit yang dideritanya. Semoga segala amal dan kebajikannya diterima di sisi Allah SWT serta ilmu yang di share mnjadi amal jariyah bagi beliau.
Aamiin.. Yaa Rabb..
Beliau (almarhum - red : aslinya adalah seorang kakek bernama Mabrur Masyhud), sudah sakit sejak lama dan sering masuk rumah sakit opname lalu boleh pulang dan begitu terus.
Saya kurang tahu persis sakitnya apa karena beliau juga gak mau cerita.
Semenjak kelahiran cucunya dari anak pertamanya (sekitar November tahun 2011), sakitnya mungkin semakin parah dan lebih sering butuh opname di rumah sakit.
Beliau juga sering rasan-rasan kalau kayanya sakitnya kok gak mau pergi dan kerasan didalam diri beliau.
Jadi beliau sejak tahun baru 2012 mulai pamit untuk tidak terlalu aktif dimilis dan akan lebih fokus menghadapi sakitnya.
Mungkin ada rekan Kaskusker yang mengetahui lebih banyak tentang beliau.
Sumber: XL-Mania in kaukus.us
Selamat jalan maha guru xl.
Doa kami menyertai
Wednesday, February 08, 2012
Senandung Hati
Aku tahu ada rasa itu di hatimu,
engkaupun tahu rasa itu masih ada.
Walau tidak lugas dan tegas.
Kau sembunyikan rapat dan dalam,
Kau sembunyikan rapat dan dalam,
tetapi terkadang muncul dalam alunan rindu yang kau senandungkan dalam kidungmu.
hmm.. mesranya hatimu..
hmm.. mesranya hatimu..
Engkau mungkin tidak bisa mengerti kenapa rasa itu muncul,
sering ada terbersit tanya tentang keanehan itu,
engkaupun menduga-duga, apakah gerangan ini.
Saranku padamu,
terima saja,
rasakan dan jalani hidupmu
yang penuh rasa dan warna...
4 someone yg sedang fall in love
Monday, January 30, 2012
Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?
“Si A itu galak”.
“Si B itu nyebelin lho”.
Demikian 2 kalimat yang saya dengar beberapa waktu
belakangan di sebuah kantor. Beruntung, alih-alih mode gosip, yang muncul dalam
kepala saya adalah alarm Meta Model. Ya, 2 kalimat tersebut jelas-jelas
mengandung pelanggaran Meta Model, yang tidak saja punya efek hipnotik pada
pendengarnya, melainkan juga mengandung sugesti (content) yang berbahaya.
Wah, yang bener? Kalimat sederhana itu?
Betul.
Kok bisa?
Mari kita bahas satu per satu. Pertama, dua kalimat tersebut
jelas mengandung lost performative. Keduanya sama-sama tidak diberi subyek
pengucap, sehingga seolah-olah ia adalah pendapat banyak orang, bahkan semua
orang. Padahal, apa benar demikian? Menurut siapa Si A dan Si B galak dan
nyebelin? Apakah menurut sahabat mereka juga demikian? Bagaimana dengan
suami/istri mereka? Atau orang-orang yang pernah mereka bantu?
Kedua, kata ‘galak’ dan ‘nyebelin’ adalah 2 kata yang tidak
spesifik. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan galak? Apakah ia teriak-teriak?
Atau marah-marah? Atau berkata ‘ketus’? Apa pula yang dimaksud dengan
‘nyebelin’? Apakah ia seorang yang usil? Tidak kooperatif dalam bekerja sama?
Tidak peduli lingkungan?
Ketiga, kedua kalimat tersebut juga mengandung generalisasi
dan delesi. Bagaimana tidak? Mungkinkah ada orang yang selalu galak setiap
saat, setiap waktu, setiap tempat, kepada setiap orang? Anda tentu sepakat
untuk menjawab tidak, kan? Ya, sebab kalaupun ada orang yang demikian, pastilah
ia sudah lama meninggalkan dunia ini.
Loh, kok?
Ya iya lah. Kondisi marah adalah kondisi emosi yang sangat
intens. Seluruh tubuh berada dalam titik yang ekstrim, sehingga tidak mungkin
seseorang mampu bertahan dalam kondisi tersebut setiap saat kalau tidak
mengalami stroke.
Keempat, keduanya juga menimbulkan efek nominalisasi, dengan
menempelkan label ‘galak’ dan ‘nyebelin’ pada Si A dan Si B. Dengan demikian,
seolah-olah yang namanya Si A dan Si B itu adalah benda yang statis, yang hanya
punya satu macam sifat saja. Apakah mungkin ada orang yang demikian di dunia
ini, sama sekali tidak punya sifat lain?
Dan, apakah masih ada pola-pola pelanggaran lain? Tentu,
silakan Anda temukan.
Nah, semua hal ini tidak terjawab jika pendengar hanya
mendengarkan kalimat tersebut. Karenanya, sesuai struktur kerja pikiran yang
selalu berusaha untuk mencari sebuah penyelesaian dari loop yang sudah terbuka,
maka pendengar pastilah akan mencari makna sendiri.
Makna apakah itu?
Ya tergantung pendengarnya. Ini yang dinamakan proses TDS
alias transderivational search. Atau, mudahnya, proses pencarian ke dalam
pikiran masing-masing pendengar, makna yang paling cocok dengan informasi
tersebut. Maka Anda tentu bisa membayangkan berapa banyak kemungkinan persepsi
yang muncul dalam benak para pendengar, kan?
Ya, sebanyak pendengar itu sendiri!
Ada yang langsung mengkaitkan dengan orang tergalak yang
pernah ia temui. Ada yang teringat pada seseorang yang ia benci. Bahkan bisa
jadi ada yang langsung mengakses perasaan kesal yang pernah ia alami pada orang
lain, dan jutaan kemungkinan lain!
Lalu apa efeknya?
Tanpa disadari, para pendengar sedang menempelkan kondisi
pikiran-perasaan yang telah ia akses terhadap memorinya tentang Si A dan Si B.
Dan bahkan ketika mereka sebenarnya belumlah mengenal siapa keduanya, mereka
sudah memiliki persepsi subyektif bin negatif tentang keduanya.
Benarlah sebuah ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengatakan
bahwa banyak orang yang berjalan ke neraka dengan wajah mereka, semuanya tak
lain adalah karena lisan. Benarlah pula bahwa fitnah itu jauh lebih kejam
daripada pembunuhan.
Maka mengapa kita tidak memohon ampun terhadap
entah berapa banyak kalimat serupa yang pernah tanpa sengaja kita ucapkan? Dan,
mengapa pula kita tidak mendeklarasikan diri untuk, mulai sekarang, senantiasa
menjaga setiap kata yang terlontar dari mulut kita?
sumber: Ferry Iswara facebook posting
Subscribe to:
Posts (Atom)



