Laut yang ganas menghasilkan kapten yang tangguh. Itu kata-kata yang aku dengar dari bapakku beberapa tahun yang lalu, saat aku ingin berangkat meninggalkan kampung halamanku, menuju tanah rantauan. Ternyata kata-kata itu pernah juga diucapkan oleh ahli marketing luar negeri sana. Aku nggak begitu peduli, siapa yang mempopulerkan kata-kata itu. Yang aku tahu, bahwa kata-kata itu begitu penuh arti. Setidaknya bagi diriku....
Tampilan terbaik menggunakan FireFox. Sajak, puisi, pemikiran, keriuhan, kegalauan, kesendirian, kesepian dan kegembiraan anak manusia. Bagi yang ingin mengirim kisah tentang kesepian atau kegembiraan anda atau yang ingin menjalin persahabatan dan atau ingin berbagi pengalaman pribadi - silahkan via ilalangliar@gmail.com - saya akan menyambut dengan welcome. Ilalang Liar
Friday, July 07, 2006
Tuesday, July 04, 2006
Cita-Citaku
Teman 'lama'ku berkunjung ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Rencana awal, katanya hanya sekitar seminggu. Tapi, ternyata terpaksa diperpanjang hingga dua minggu, karena temannya di Jakarta sakit. Dia menemani menunggu si sakit. Pada saat itulah (tapi, hampir tengah malam loh...) aku berkesempatan bertemu dengannya di RSI Cempaka Putih Jakarta. (Terimakasih ya, atas pertemuannya).
Layaknya dua orang teman lama yang baru bertemu kembali, saya merasakan keakraban yang sangat kental diantara kami. Ngobrol ngalor ngidul, tentang perjalanannya menyusuri Pulau Jawa, mulai dari Yogya, Bandung, Bogor terus ke Jakarta. (dalam hati, aku pengen juga seperti dia, bisa berkeliling keliling, keliling Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali. puiih...! rasanya gimana ya...? )
"Lang, kamu jadi penulis aja!" Begitu diantara kata-kata temanku ini.
"Apa, jadi penulis?" aku masih bertanya untuk meyakinkan?
"iya, jadi penulis. Tulisanmu kulihat cukup bagus. Bener deh... Kan sayang"
Aku hanya tersenyum kecut. iya sih, memang cita-citaku sebenarnya 'hanya' dua saja. Yang pertama, menjadi guru, yang kedua menjadi penulis.
Menjadi guru, mungkin sebagian dari cita-cita itu sudah terlaksana. Walau tidak full time, aku sudah mengisi sebagian hariku menjadi guru. (Namun, menurutku aku belum sepenuhnya menjadi guru. Guru yang dapat dijadikan teladan, guru yang dapat 'mendidik' dan mengayomi, guru yang mendorong untuk kemajuan, guru yang menyuarakan kebenaran tanpa pamrih, guru yang terus menerus tanpa henti untuk mengamalkan ilmunya untuk orang lain yang memerlukan). Aku baru menjadi 'guru' dalam konteks memberikan materi mata pelajaran / mata kuliah di depan kelas. Tampaknya baru sebatas itu.
Yang Kedua, menjadi penulis.
Menurutku menjadi penulis dapat membuat seseorang 'berumur' panjang. Berumur panjang dalam arti: orang akan selalu mengenal kita dari tulisan-tulisan kita. Orang akan mengenang kita dari apa yang kita tulis.
Dengan menulis, kitapun dapat menanamkan kebaikan. Dengan menulis kita dapat berbagi pengalaman, dapat berbagi cerita. Dengan menulis kita dapat mengingatkan akan suatu kejadian atau peristiwa. Dengan menulis membuat kita dapat membuat 'prasasti' yang sesungguhnya tentang perjalanan hidup kita. Menjadi penulis, menjadi cita-citaku dari kecil.
Nah, ini yang kurasa masih jauh.
Saat pertemuan dengan teman (kuliahku dulu) tiga hari yang lalu, nada yang sama juga keluar dari ucapannya "Bang Hans begitu mereka memanggilku- kenapa abang nggak nulis aja? Pemikiran-pemikiran abang akan sangat bermanfaat bila dituangkan dalam tulisan."
Kembali aku terdiam bila mendengar kata-kata seperti itu.
Tampaknya, aku memang harus belajar lebih banyak lagi untuk mewujudkan cita-citaku yang satu itu. Aku memang harus berusaha lebih keras lagi untuk menuangkan pemikiran-pemikiran yang ada di kepalaku menjadi tulisan yang enak dibaca dan komunikatif. Ada yang bisa bantu...? :)
Terima kasih kawan, kata-katamu semakin menguatkanku untuk mewujudkan cita-cita itu.
Layaknya dua orang teman lama yang baru bertemu kembali, saya merasakan keakraban yang sangat kental diantara kami. Ngobrol ngalor ngidul, tentang perjalanannya menyusuri Pulau Jawa, mulai dari Yogya, Bandung, Bogor terus ke Jakarta. (dalam hati, aku pengen juga seperti dia, bisa berkeliling keliling, keliling Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali. puiih...! rasanya gimana ya...? )
"Lang, kamu jadi penulis aja!" Begitu diantara kata-kata temanku ini.
"Apa, jadi penulis?" aku masih bertanya untuk meyakinkan?
"iya, jadi penulis. Tulisanmu kulihat cukup bagus. Bener deh... Kan sayang"
Aku hanya tersenyum kecut. iya sih, memang cita-citaku sebenarnya 'hanya' dua saja. Yang pertama, menjadi guru, yang kedua menjadi penulis.
Menjadi guru, mungkin sebagian dari cita-cita itu sudah terlaksana. Walau tidak full time, aku sudah mengisi sebagian hariku menjadi guru. (Namun, menurutku aku belum sepenuhnya menjadi guru. Guru yang dapat dijadikan teladan, guru yang dapat 'mendidik' dan mengayomi, guru yang mendorong untuk kemajuan, guru yang menyuarakan kebenaran tanpa pamrih, guru yang terus menerus tanpa henti untuk mengamalkan ilmunya untuk orang lain yang memerlukan). Aku baru menjadi 'guru' dalam konteks memberikan materi mata pelajaran / mata kuliah di depan kelas. Tampaknya baru sebatas itu.
Yang Kedua, menjadi penulis.
Menurutku menjadi penulis dapat membuat seseorang 'berumur' panjang. Berumur panjang dalam arti: orang akan selalu mengenal kita dari tulisan-tulisan kita. Orang akan mengenang kita dari apa yang kita tulis.
Dengan menulis, kitapun dapat menanamkan kebaikan. Dengan menulis kita dapat berbagi pengalaman, dapat berbagi cerita. Dengan menulis kita dapat mengingatkan akan suatu kejadian atau peristiwa. Dengan menulis membuat kita dapat membuat 'prasasti' yang sesungguhnya tentang perjalanan hidup kita. Menjadi penulis, menjadi cita-citaku dari kecil.
Nah, ini yang kurasa masih jauh.
Saat pertemuan dengan teman (kuliahku dulu) tiga hari yang lalu, nada yang sama juga keluar dari ucapannya "Bang Hans begitu mereka memanggilku- kenapa abang nggak nulis aja? Pemikiran-pemikiran abang akan sangat bermanfaat bila dituangkan dalam tulisan."
Kembali aku terdiam bila mendengar kata-kata seperti itu.
Tampaknya, aku memang harus belajar lebih banyak lagi untuk mewujudkan cita-citaku yang satu itu. Aku memang harus berusaha lebih keras lagi untuk menuangkan pemikiran-pemikiran yang ada di kepalaku menjadi tulisan yang enak dibaca dan komunikatif. Ada yang bisa bantu...? :)
Terima kasih kawan, kata-katamu semakin menguatkanku untuk mewujudkan cita-cita itu.
Thursday, June 29, 2006
Ajari Aku
Ajari aku kasih
'tuk mengerti dirimu
Ajari aku kasih
'tuk mengerti sikapmu
Banyak yang tak kumengerti
Separuh hatiku telah kau ambil
Kau siramkan cerita-cerita
tentang langkah-langkah yang membekas dalam
tentang masa-masa yang kau lalui
tentang tangan-tangan penuh kehangatan
yang terasa melindungimu
tentang banyak sekali yang masih lekat erat
dalam ayunan langkahmu
Kau katakan itu masa lalumu
Tapi ku rasa
semuanya masih kau simpan
dalam buku yang kau pegang
yang kau bawa melangkah
menyusuri hari-harimu.
Ajari aku kasih
'tuk menjalani hidup
dengan masa lalu, kini dan masa depan
----------
Note: istriku aku belajar banyak darimu, bukan hanya tentang 'itu' dan 'ini' tetapi juga tentang memaknai suatu perjalanan dan aku berharap dapat 'belajar' lagi dan lagi darimu.
'tuk mengerti dirimu
Ajari aku kasih
'tuk mengerti sikapmu
Banyak yang tak kumengerti
Separuh hatiku telah kau ambil
Kau siramkan cerita-cerita
tentang langkah-langkah yang membekas dalam
tentang masa-masa yang kau lalui
tentang tangan-tangan penuh kehangatan
yang terasa melindungimu
tentang banyak sekali yang masih lekat erat
dalam ayunan langkahmu
Kau katakan itu masa lalumu
Tapi ku rasa
semuanya masih kau simpan
dalam buku yang kau pegang
yang kau bawa melangkah
menyusuri hari-harimu.
Ajari aku kasih
'tuk menjalani hidup
dengan masa lalu, kini dan masa depan
----------
Note: istriku aku belajar banyak darimu, bukan hanya tentang 'itu' dan 'ini' tetapi juga tentang memaknai suatu perjalanan dan aku berharap dapat 'belajar' lagi dan lagi darimu.
Tuesday, June 13, 2006
Melampaui Diri Sendiri
Ini sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang bijak. Suatu malam, seorang laki-laki datang ke rumahnya dan berkata, "Ada sebuah keluarga dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan." Mendengar hal itu bergegaslah orang bijak itu pergi membawa makanan untuk mereka.
Ketika tiba di sana ia melihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena kelaparan. Tak ada kesedihan ataupun kepedihan di wajah mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.
Orang bijak itu memberikan nasi yang dibawanya pada sang ibu. Ibu itu lantas membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu ke luar membawa setengahnya. Ketika ia kembali, orang bijak itu bertanya, "Kau pergi kemana?" Ibu itu menjawab, "Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga lapar."
Orang bijak itu tercengang. Ia tidak heran kalau si ibu membagi nasi itu dengan tetangga-tetangganya, sebab ia tahu orang miskin biasanya pemurah. Yang ia herankan adalah karena si ibu tahu bahwa mereka lapar. Biasanya kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang lain.
Si ibu dalam cerita di atas adalah contoh orang yang telah dapat melampaui dirinya sendiri. Ia dapat melepaskan keterikatannya pada kebutuhan fisik dan secara bersamaan memenuhi kebutuhan spiritualnya yaitu untuk berbagi dengan orang lain. Kualitas semacam ini tentu tak dapat diraih dalam waktu singkat. Ini memerlukan proses pergulatan batin yang cukup panjang.
Kehidupan manusia memang senantiasa menjadi tempat pergulatan dua kepentingan utama: fisik dan spiritual. Kepentingan fisik adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk bisa hidup di masa sekarang, seperti sandang, pangan dan papan. Ini kebutuhan jangka pendek kita. Sementara, kepentingan spiritual adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Ini adalah kebutuhan jangka pendek sekaligus jangka panjang.
Pemenuhan kedua macam kebutuhan ini akan menghasilkan kualitas hidup yang tinggi. Sayang, banyak orang yang tak menyadari hal ini. Mereka menghabiskan hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta benda. Untuk itu mereka juga tak segan-segan menggunakan cara yang buruk: menciptakan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri, menguras uang rakyat, mencuri uang perusahaan, maupun menciptakan konspirasi yang merugikan orang banyak.
Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di dunia ini berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan adalah pada cara kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri kita semata-mata makhluk fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat membendung keinginan kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Betapa banyaknya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi memiliki harta yang luar biasa banyaknya.
Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu. Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya. Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk membantu anak yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang sakit, membangun sekolah, dan sebagainya. Dengan berbagai alasan tersebut kita mendapatkan ''ketenangan sementara'' karena seolah-olah perbuatan yang kita lakukan telah berubah menjadi legal, rasional atau paling tidak dapat dimaklumi.
Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu dalam diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan gelisah. Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka sangat rentan terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat jauh dari ketentraman yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang mereka kumpulkan tak akan pernah melahirkan perasaan cukup dan puas. Sebuah pepatah mengatakan, ''The world is enough for everybody, but not enough for one greedy.'' Apa yang disediakan oleh dunia ini sebetulnya cukup untuk semua orang, tetapi tidak akan cukup untuk seorang yang rakus.
Disadur dari berbagai sumber www.republika.co.id
Ketika tiba di sana ia melihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena kelaparan. Tak ada kesedihan ataupun kepedihan di wajah mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.
Orang bijak itu memberikan nasi yang dibawanya pada sang ibu. Ibu itu lantas membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu ke luar membawa setengahnya. Ketika ia kembali, orang bijak itu bertanya, "Kau pergi kemana?" Ibu itu menjawab, "Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga lapar."
Orang bijak itu tercengang. Ia tidak heran kalau si ibu membagi nasi itu dengan tetangga-tetangganya, sebab ia tahu orang miskin biasanya pemurah. Yang ia herankan adalah karena si ibu tahu bahwa mereka lapar. Biasanya kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang lain.
Si ibu dalam cerita di atas adalah contoh orang yang telah dapat melampaui dirinya sendiri. Ia dapat melepaskan keterikatannya pada kebutuhan fisik dan secara bersamaan memenuhi kebutuhan spiritualnya yaitu untuk berbagi dengan orang lain. Kualitas semacam ini tentu tak dapat diraih dalam waktu singkat. Ini memerlukan proses pergulatan batin yang cukup panjang.
Kehidupan manusia memang senantiasa menjadi tempat pergulatan dua kepentingan utama: fisik dan spiritual. Kepentingan fisik adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk bisa hidup di masa sekarang, seperti sandang, pangan dan papan. Ini kebutuhan jangka pendek kita. Sementara, kepentingan spiritual adalah hal-hal yang kita butuhkan untuk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Ini adalah kebutuhan jangka pendek sekaligus jangka panjang.
Pemenuhan kedua macam kebutuhan ini akan menghasilkan kualitas hidup yang tinggi. Sayang, banyak orang yang tak menyadari hal ini. Mereka menghabiskan hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta benda. Untuk itu mereka juga tak segan-segan menggunakan cara yang buruk: menciptakan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri, menguras uang rakyat, mencuri uang perusahaan, maupun menciptakan konspirasi yang merugikan orang banyak.
Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di dunia ini berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan adalah pada cara kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri kita semata-mata makhluk fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat membendung keinginan kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Betapa banyaknya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi memiliki harta yang luar biasa banyaknya.
Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu. Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya. Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk membantu anak yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang sakit, membangun sekolah, dan sebagainya. Dengan berbagai alasan tersebut kita mendapatkan ''ketenangan sementara'' karena seolah-olah perbuatan yang kita lakukan telah berubah menjadi legal, rasional atau paling tidak dapat dimaklumi.
Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu dalam diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan gelisah. Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka sangat rentan terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat jauh dari ketentraman yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang mereka kumpulkan tak akan pernah melahirkan perasaan cukup dan puas. Sebuah pepatah mengatakan, ''The world is enough for everybody, but not enough for one greedy.'' Apa yang disediakan oleh dunia ini sebetulnya cukup untuk semua orang, tetapi tidak akan cukup untuk seorang yang rakus.
Disadur dari berbagai sumber www.republika.co.id
Monday, June 05, 2006
Tanda-Tanda Kah?
Teman saya sembari berjalan menuju kantin, untuk makan siang di tempat kerja berkata pada saya, "Lang, Dua daerah Istimewa di Indonesia dilanda musibah besar-besaran nih. Kamu liat nggak bahwa ini merupakan tanda-tanda?"
Aku terkaget. Aku juga baru nyadar kalo musibah besar dua tahun terakhir ini terjadi di Aceh dan di Yogya, dua daerah Istimewa. Iya, daerah istimewa. Tapi, terus terang, aku tidak tahu apa yang dimaksudkan teman saya itu.
Aku tidak mau memperjang pembicaraan masalah itu.
Memang, akupun pernah mendengar dari para ulama, baik itu melalui ceramah, atau khutbah-khutbah, bahwa suatu musibah bisa merupakan ujian atau cobaan, bisa merupakan teguran dan bisa juga merupakan azab.
Indonesia, negaraku ini, yang memiliki dua daerah yang disebut istimewa tadi, menurutku sedang diberikan teguran, agar 'memperhatikan' dua daerah istimewa ini. (ah... aku tidak bisa berprediksi untuk musibah ini, yang penting menurutku saat ini, mari kita galang solidaritas dan kebersamaan kita untuk meringankan beban sodara-sodara kita yang sedang dilanda musibah tersebut). Yang berharta, mari bantu dengan harta. Yang memiliki tenaga dan keahlian, mari bantu dengan tenaga. Yang bisa membantu dengan do'a, mari kita bantu dengan do'a.
Aku turut berduka saudaraku,
Aku dengar jeritmu dari sini...
Aku dengar..
Tuesday, May 23, 2006
Aku Terlambat Berbuat?
.......
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkan......
Aku tak bisa untuk tak peduli
Hati tersiksa.
Aku bersumpah
untuk berbuat yang aku bisa!
Iya! Kita harus berbuat. Kita harus berbuat yang kita bisa. Apapun itu. Jangan menunggu!
Terlalu sering kita menunggu. Menunggu dan menunggu. Padahal waktu, terus bergulir. Waktu terus berjalan meninggalkan kita. Saat kita tersadar, ternyata kita telah jauh tertinggal.
Seorang teman, (yang dulu sangat) akrab (dengan) saya, tadi pagi menghentakkan saya dengan 'centilan-centilan' seperti itu. Secara pendidikan, teman saya itu (memang) tidak seberuntung saya yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Dia (baru bisa) mengenyam pendidikan SMA, tetapi secara penalaran dan 'pemahaman' tentang makna kehidupan, dia sangat-sangat mumpuni.
"Hidup ini, mau dijadikan seperti apa, tergantung pada kita kawan!" lagi-lagi dia menghentakkan saya.
"Terlalu banyak tekanan di sekeliling kita untuk mengikuti pola hidup 'konsumtif' dan mengedepankan mimpi-mimpi. Bagaimana tidak, bangun pagi kita harus berpacu dengan waktu untuk bekerja, untuk sekolah dan sebagainya. Saat itu, disekeliling kita telah dipenuhi iklan-iklan. Iklan kecantikan, iklan untuk berbelanja, iklan untuk makan. dan Iklan-iklan lain. Padahal dari mulai pagi, siang hingga malam, masih terus harus memikirkan keadaan ekonomi, sehingga membuat kita harus terus menerus bekerja keras".
"Tontonan di TV menampilkan kehidupan glamour, egois tapi juga membuat kita cengeng!"
"Kita diajak bermimpi, tapi kita tidak diajak untuk berbuat, kawan!"..............
..........
Aku terdiam!
Kata-kata ini membuat saya 'menjadi' ingin introspeksi terhadap apa yang telah saya lakukan. (Paling tidak untuk saat ini).
Dalam hati, terbersit pertanyaan: Apakah saya juga hanya ikut bermimpi, tanpa berbuat ya?
Apa saya juga sudah termasuk kategori ini ya? Kategori yang hanya bermimpi hidup glamour, egois tapi juga cengeng? puiihh, saya koq jadi malu sendiri :-D
Terima Kasih Kawan, Aku Akan Segera Berbuat! Untuk Lebih Baik.
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkan......
Aku tak bisa untuk tak peduli
Hati tersiksa.
Aku bersumpah
untuk berbuat yang aku bisa!
Iya! Kita harus berbuat. Kita harus berbuat yang kita bisa. Apapun itu. Jangan menunggu!
Terlalu sering kita menunggu. Menunggu dan menunggu. Padahal waktu, terus bergulir. Waktu terus berjalan meninggalkan kita. Saat kita tersadar, ternyata kita telah jauh tertinggal.
Seorang teman, (yang dulu sangat) akrab (dengan) saya, tadi pagi menghentakkan saya dengan 'centilan-centilan' seperti itu. Secara pendidikan, teman saya itu (memang) tidak seberuntung saya yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Dia (baru bisa) mengenyam pendidikan SMA, tetapi secara penalaran dan 'pemahaman' tentang makna kehidupan, dia sangat-sangat mumpuni.
"Hidup ini, mau dijadikan seperti apa, tergantung pada kita kawan!" lagi-lagi dia menghentakkan saya.
"Terlalu banyak tekanan di sekeliling kita untuk mengikuti pola hidup 'konsumtif' dan mengedepankan mimpi-mimpi. Bagaimana tidak, bangun pagi kita harus berpacu dengan waktu untuk bekerja, untuk sekolah dan sebagainya. Saat itu, disekeliling kita telah dipenuhi iklan-iklan. Iklan kecantikan, iklan untuk berbelanja, iklan untuk makan. dan Iklan-iklan lain. Padahal dari mulai pagi, siang hingga malam, masih terus harus memikirkan keadaan ekonomi, sehingga membuat kita harus terus menerus bekerja keras".
"Tontonan di TV menampilkan kehidupan glamour, egois tapi juga membuat kita cengeng!"
"Kita diajak bermimpi, tapi kita tidak diajak untuk berbuat, kawan!"..............
..........
Aku terdiam!
Kata-kata ini membuat saya 'menjadi' ingin introspeksi terhadap apa yang telah saya lakukan. (Paling tidak untuk saat ini).
Dalam hati, terbersit pertanyaan: Apakah saya juga hanya ikut bermimpi, tanpa berbuat ya?
Apa saya juga sudah termasuk kategori ini ya? Kategori yang hanya bermimpi hidup glamour, egois tapi juga cengeng? puiihh, saya koq jadi malu sendiri :-D
Terima Kasih Kawan, Aku Akan Segera Berbuat! Untuk Lebih Baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)