Tuesday, August 22, 2006

Hari ini

Ajaklah aku terbang ke sana wahai bintang
biar aku bebas melihat dunia dari atas sana
Ajaklah aku terbang ke sana wahai bintang
biar di atas sana
aku bisa mencari kemana perginya burung perenjakku
yang pergi tanpa berita.

*aku rindu kamu Sayang, dimana kamu berada?*

Friday, August 18, 2006

Catatan Yang Belum Selesai

Tangerang, 18 Agustus 2006, 00:00 (saat pergantian hari...)

Bukankah sebuah catatan pun akan banyak bercerita tentang perjalanan yang engkau tapaki?

Kepalaku terasa lebih ringan setelah kelelahan yang kualami, saat satu dua teguk air putih melewati kerongkonganku. Tubuhku memang kurasakan agak berat, setelah seharian aku menghabiskan pagi hingga malamku ikut dalam aktifitas ‘tujuhbelasan’ di tempatku kerja dan di kampungku tinggal – kampung Sembung. Tanggal 17 Agustus memang memiliki makna yang mendalam bagi bangsa ini.

Aku tersentak saat ‘reminder’ di komputer berkedip-kedip. “jangan lupa tanggal 18 Agustus!”.

Iya, aku tidak akan lupa tanggal itu. Tanggal yang memiliki makna yang sangat besar bagi seseorang, istriku.

Rasanya, ingin aku membangunkanmu. Mengajakmu berbincang-bincang. Tapi, aku merasa sangat bersalah bila ternyata dengan caraku itu, malah mengganggumu. Akupun tidak mau mengusik ‘mimpimu’ di sana apabila ‘tiba-tiba’ aku hadir. Aku tidak mau Sayang. Biarlah, aku menatap wajahmu dari sini. Mendekapmu erat, melantunkan kata sayang dan cinta dengan caraku.

Kasihku, dalam kesunyian malam, semoga Tuhan mendengar do’aku untukmu. Kamu tahu, apa yang ku panjatkan?

Catatan kita belum lagi selesai sayangku, walau seberapa panjang yang dapat kita goreskan kita juga tidak mengetahuinya.

Catatan kita belum lagi selesai sayangku. Pagi akan berputar menuju siang, siang merambat mencapai senja, senjapun beranjak memeluk malam. Terus, dan terus akan berputar. Dan catatan kita akan semakin panjang.

Selamat Ulang tahun Sayangku, Kekasihku, Istriku. Semoga kamu semakin mencintaiku, dan semoga goresan pena dalam catatanmu akan berisi cerita-cerita bahagia sepanjang hidupmu. Amiin..

Tuesday, August 08, 2006

Tuntaskan!

Minggu yang lalu, kami melakukan survey. Survey terhadap pengelola catering yang mengajukan proposal untuk mengisi kantin di tempat kami bekerja. Saya selaku unsur serikat pekerja bersama seorang dari Manajemen dan seorang lagi dari panitiakecil yang dibentuk. Di perjalanan beberapa kali, teman kami (wakil panitia kecil tadi yang kebetulan dari bagian Maintenance) mendapat panggilan lewat telepon genggam.
"Pak, telepon Mr. Sinouchi udah dibenerin?" pertanyaan dari ujung telepon sana.
"Udah, pak"
"loh, katanya lum bisa nelpon"
"iya, kemaren itu udah saya telpon ke Telkom. Orang Telkom udah dateng, katanya udah ok"
"tapi, tadi itu Mr. Sinouchi bilang, belum bisa dipake."
"iya, bisa jadi pak, soalnya kata orang Telkom, mungkin PABXnya jebol"
"Terus, berarti belum berfungsi dong...!"
"ntar saya mo telpon ke Panasonic biar ngecek PABXnya, mungkin harus ganti"
"lalu, kira-kira kapan? Kamu cepet balik deh!"
"Waduh, belum tau juga pak, bisa jadi harus ganti kabel segala, lagian ini nyampe juga belum pak, ntar sore deh..!"
-----
Pekerjaan atau apapun yang kita lakukan, sering tanpa kita sadari menjadi tidak tuntas, tertunda-tunda. Contoh kasus tadi seakan menjadi pembenaran, bahwa dengan hanya mengatakan udah ok dan ntar deh, semuanya udah selesai.
Dalam sebuah tulisan tentang disiplin sering kita baca bahwa penuntasan sering terhambat oleh proses intelektualisasi dan praktek berfilsafat, sehingga kita tidak fokus pada implementasi. Kita sering berfilsafat dan talk only tanpa melakukan langkah nyata. Padahal, dimanapun kita berada, terlebih-lebih di dunia kerja, menuntaskan suatu pekerjaan akan menjadikan kita bisa kompetitif dan produktif. Suatu hal yang menjadi modal utama untuk berkiprah di dunia kerja dan dunia nyata lainnya.
Kadang kita seakan tidak menyadari bahwa kita benar-benar hidup dalam dunia kerja. Dunia nyata. Dunia kerja adalah dunia dimana hanya hasil kerja yang berlaku. Dunia kerja adalah dunia action. (Begitu kata Eileen Rachman, seorang training provider terkenal). Selain itu, ungkapan time is money memang sangat sesuai dengan prinsip bisnis. Dalam dunia kerja, waktu menjadi tolok ukur utama dalam penyelesaian suatu pekerjaan, di samping tentunya competitive cost. Bila terlambat, maka customer akan kecewa, yang bisa berdampak larinya customer pada perusahaan lain. Ini tentu saja, ujung-ujungnya dapat berdampak negatif pada kita selaku pekerja.
Dalam pelaksanaan kerja, jangan terlalu banyak menanyakan mengapa?, tetapi tanyakan: kapan, apa, berapa dan oleh siapa. Dan berdaarkan teorinya, kitapun harus bisa menggambarkan action secara spesifik dan terukur, bukan analisa, apalagi: teori!
Dalam dunia manajemen, istilah follow up dan follow through sudah sangat sering kita dengar. Begitu seringnya, sehingga terkadang kita lupa berorientasi pada hasil. Padahal follow up dan folow through itu seharusnya berdampak pada hasil akhir. Artinya tindak lanjut tadi harus mendorong ke arah penuntasan, bukan penundaan!
Evaluasi memang sering membuat kita kawatir dan cemas. Tetapisebenarnya, inilah satu-satunya alat untuk membuat diri kita terbiasa mengukur kinerja. Evaluasi kinerja membuat kita berani gagal, dan juga lebih berani dalam mengambil resiko.
Sehingga, apapun persoalan yang kita hadapi dapat terselesaikan secara tuntas! Dan itu membuat kita lega. Hanya dengan rasa lega karena semua tugas sudah tuntas itulah, mental dan fisik kita benar-benar bisa merasa rileks dan merasa puas. Itulah salah satu bentuk kebahagiaan. Jadi, jangan menunda, ayo tuntaskan!

Wednesday, August 02, 2006

Dewasa...

Untuk menentukan apakah seseorang dikatakan dewasa atau belum, dapat ditinjau dari berbagai sudut. Dari segi hukum, tentunya dilihat dari undang-undang dan peraturan pemerintah. Misalnya saja peraturan penggajian yang menyatakan, anak yang sudah berusia 21 tahun tidak lagi ditanggung oleh ayahnya karena telah dianggap dewasa. Begitu kata seorang pakar yang jebolan sekolah hukum.

Dari segi psikologi perkembangan kedewasaan seseorang bukan hanya diukur dari kematangan fisik (tinggi/berat badan, terjadi kematangan seksual, dll) tetapi terutama dari segi kepribadian (sosial, kognitif, emosi, dan sebagainya) meski pada masa kini tidak ada batas yang tegas dalam hal usia untuk membedakan apakah seseorang sudah tergolong dewasa atau belum.

Hal ini terungkap dari pernyataan, "adolescence begins in biology and ends in culture". Saat berakhirnya masa remaja, dimulailah masa usia muda, masa di mana seseorang dituntut untuk menjadi orang yang dewasa. Namun bagi masyarakat tertentu (juga Indonesia?), kedewasaan seseorang itu dapat saja muncul di berbagai usia, tergantung kepada tuntutan apa yang hendak diterapkan.
Seperti contoh tentang peraturan penggajian misalnya. Atau UU Perkawinan kita yang menetapkan usia 18 tahun bagi perempuan dan 21 tahun bagi laki-laki untuk diizinkan menikah (masih kita segera untuk menikah, hehehe...); atau 18 tahun untuk mengemudi mobil baik bagi lelaki maupun perempuan, dan lain-lain.

Ada masyarakat yang menetapkan seseorang dapat dianggap dewasa secara sosiologis jika telah mampu membiayai diri sendiri, telah memiliki karir, atau menikah (nah, ini menjawab pertanyaan temenku Piet tentang masalah nikah, halo Piet..! Are You hearing me?) Atau kematangan intelektual yang biasanya dicapai jika seseorang telah mampu berpikir abstrak. Atau kedewasaan emosi yang terukur dari kemampuan seseorang untuk mengontrol dirinya, telah memiliki identitas diri, dapat berpisah dari orangtua, sudah mengembangkan sistem nilai sendiri dan mampu membina hubungan persahabatan maupun cinta (kata-kata 'cinta' ini khusus untuk seseorang di Yogya sana, ini mungkin tentangmu Sayang...).
Namun perlu diingat, ada saja orang yang tetap belum dewasa secara emosional ataupun sosial berapa pun usia kronologisnya.

Dewasa, dalam kehidupan sehari-hari, mungkin merupakan suatu sikap yang ‘dianggap’ sesuai proporsinya untuk tiap-tiap suatu 'keadaan' yang dihadapinya. Mungkin gitu deh kira-kira.
Kok mungkin ya? :)

Friday, July 07, 2006

Kapten Laut

Laut yang ganas menghasilkan kapten yang tangguh. Itu kata-kata yang aku dengar dari bapakku beberapa tahun yang lalu, saat aku ingin berangkat meninggalkan kampung halamanku, menuju tanah rantauan. Ternyata kata-kata itu pernah juga diucapkan oleh ahli marketing luar negeri sana. Aku nggak begitu peduli, siapa yang mempopulerkan kata-kata itu. Yang aku tahu, bahwa kata-kata itu begitu penuh arti. Setidaknya bagi diriku....

Tuesday, July 04, 2006

Cita-Citaku

Teman 'lama'ku berkunjung ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Rencana awal, katanya hanya sekitar seminggu. Tapi, ternyata terpaksa diperpanjang hingga dua minggu, karena temannya di Jakarta sakit. Dia menemani menunggu si sakit. Pada saat itulah (tapi, hampir tengah malam loh...) aku berkesempatan bertemu dengannya di RSI Cempaka Putih Jakarta. (Terimakasih ya, atas pertemuannya).
Layaknya dua orang teman lama yang baru bertemu kembali, saya merasakan keakraban yang sangat kental diantara kami. Ngobrol ngalor ngidul, tentang perjalanannya menyusuri Pulau Jawa, mulai dari Yogya, Bandung, Bogor terus ke Jakarta. (dalam hati, aku pengen juga seperti dia, bisa berkeliling keliling, keliling Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali. puiih...! rasanya gimana ya...? )
"Lang, kamu jadi penulis aja!" Begitu diantara kata-kata temanku ini.
"Apa, jadi penulis?" aku masih bertanya untuk meyakinkan?
"iya, jadi penulis. Tulisanmu kulihat cukup bagus. Bener deh... Kan sayang"
Aku hanya tersenyum kecut. iya sih, memang cita-citaku sebenarnya 'hanya' dua saja. Yang pertama, menjadi guru, yang kedua menjadi penulis.

Menjadi guru, mungkin sebagian dari cita-cita itu sudah terlaksana. Walau tidak full time, aku sudah mengisi sebagian hariku menjadi guru. (Namun, menurutku aku belum sepenuhnya menjadi guru. Guru yang dapat dijadikan teladan, guru yang dapat 'mendidik' dan mengayomi, guru yang mendorong untuk kemajuan, guru yang menyuarakan kebenaran tanpa pamrih, guru yang terus menerus tanpa henti untuk mengamalkan ilmunya untuk orang lain yang memerlukan). Aku baru menjadi 'guru' dalam konteks memberikan materi mata pelajaran / mata kuliah di depan kelas. Tampaknya baru sebatas itu.
Yang Kedua, menjadi penulis.
Menurutku menjadi penulis dapat membuat seseorang 'berumur' panjang. Berumur panjang dalam arti: orang akan selalu mengenal kita dari tulisan-tulisan kita. Orang akan mengenang kita dari apa yang kita tulis.
Dengan menulis, kitapun dapat menanamkan kebaikan. Dengan menulis kita dapat berbagi pengalaman, dapat berbagi cerita. Dengan menulis kita dapat mengingatkan akan suatu kejadian atau peristiwa. Dengan menulis membuat kita dapat membuat 'prasasti' yang sesungguhnya tentang perjalanan hidup kita. Menjadi penulis, menjadi cita-citaku dari kecil.
Nah, ini yang kurasa masih jauh.
Saat pertemuan dengan teman (kuliahku dulu) tiga hari yang lalu, nada yang sama juga keluar dari ucapannya "Bang Hans begitu mereka memanggilku- kenapa abang nggak nulis aja? Pemikiran-pemikiran abang akan sangat bermanfaat bila dituangkan dalam tulisan."
Kembali aku terdiam bila mendengar kata-kata seperti itu.
Tampaknya, aku memang harus belajar lebih banyak lagi untuk mewujudkan cita-citaku yang satu itu. Aku memang harus berusaha lebih keras lagi untuk menuangkan pemikiran-pemikiran yang ada di kepalaku menjadi tulisan yang enak dibaca dan komunikatif. Ada yang bisa bantu...? :)


Terima kasih kawan, kata-katamu semakin menguatkanku untuk mewujudkan cita-cita itu.